Makalah
sosiologi
“Sejarah
perkembangan sosiologi dan kebudayaan cirebon”
Dosen pembingbing : Yanto Heryantos,Sos,.M.Si

Nama : Dyfa Nur Apriani
NPM : 118090046
Program
studi : Ilmu Administasi Negara (AN
1-C)
UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI
2018
Jl. Terusan pemuda no.1
Cirebon 45132 telp (0231)488926
Kata pengantar
Segala puji saya panjatkan
kehadirat Allah SWT hingga saat ini saya diberikan nafas kehidupan dan anugrah
akal,sehingga saya dapat menyelesaikan pembuatan tugas ini yang bertemakan
“sejarah perkembangan sosiologi dan kebudayaan cirebon” tepat pada waktunya.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu
tugas matakuliah sosiologi. Dalam makalah ini kita membahas tentang sejarah
cirebon dan upacara panjat jimat, tak lupa saya ucapkan terimakasih atas
perhatiannya terhadap makalah ini dan khususnya para pembaca.
Tidak ada manusia yang tak
luput dari kesalahan dan kekurangan, dengan segala kerendahan hati, saran dan
kritik yang sifatnya membangun sangat saya harapkan dari para pembaca guna
meningkatkan kualitas makalah ini pada waktu mendatang
Cirebon, 15 oktober
2018
Penyusun
Dyfa nur apriani
Daftar isi
Judul ..............................................................................................................
Kata pengantar............................................................................................... i
Daftar isi ....................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar belakang
......................................................................................... 1
B. Rumusan
masalah .................................................................................... 1
C.
Tujuan penulisan
.................................................................................... 1
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Sejarah Cirebon....................................................................................... 2
B.
Pengertian upacara panjang jimat ........................................................... 3
C.
Pelaksanan dan perubahan pelaksanan upacara panjang
jimat ............... 4
BAB III PENUTUP
A.
Kesimpulan .......................................................................................... 9
B.
Saran .................................................................................................... 9
Daftar pustaka ................................................................................................ 10
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Salah satu bentuk kebudayaan
Nasional adalah sistem ritual upacara keagamaan yang banyak dilakukan oleh
masyarakat Indonesia. Upacara Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan Cirebon
merupakan salah satu bentuk kebudayaan lokal yang ikut memperkaya kebudayaan
Nasional Indonesia. Upacara Panjang Jimat sudah dilaksanakan sejak Keraton
Kasepuhan didirikan dan terus berlangsung sampai sekarang.
Panjang Jimat merupakan salah satu tradisi kuno yang masih dilakukan
hingga saat ini. Pada proses pelaksanaan panjang jimat yang di laksanakan pada
puncak (pelal) Maulid Nabi telah banyak perubahan yang dilakukan demi
penyesuaian antara tradisi lama dengan keadaan masyarakat yang melaksanakannya
pada saat ini. Bahwa perubahan sosial dan kebudayaan yang telah dan sedang
terjadi di lingkungan Cirebon telah mempengaruhi situasi dan kondisi Keraton
Kasepuhan. Perubahan sosial dan kebudayaan tersebut, di antaranya, telah
mempengaruhi keseragaman tata cara hidup tradisional. Keraton sebagai institusi
yang terlahir dari tradisi lamapun tidak luput dari pengaruh perubahan
tersebut. Sebagai contoh pada tradisi Panjang Jimat yang mengalami banyak
perubahan dari dahulu hingga saat ini.
B. RUMUSAN MASALAH
1. bagaimana sejarah Cirebon
2. apa pengertian upacara panjang jimat ?
3. bagaimana pelaksanaan dan perubahan upacara panjang
jimat ?
TUJUAN PENULISAN
1. mengetahui sejarah Cirebon
2. mengetahui tradisi upacara panjang jimat
3. mengetahui perubahan upacara panjang jimat
4. memenuhi nilai sosiologi
BAB II
PEMBAHASAN
A. SEJARAH CIREBON
Asal kota Cirebon ialah pada abad ke 14 di pantai utara Jawa Barat ada desa
nelayan kecil yang bernama Muara Jati yang terletak di lereng bukit Amparan
Jati. Muara Jati adalah pelabuhan nelayan kecil. Penguasa kerajaan Galuh yang
ibu kotanya Rajagaluh menempatkan seorang sebagai pengurus pelabuhan atau
syahbandar Ki Gedeng Tapa. Pelabuhan Muara Jati banyak di singgahi kapal-kapal
dagang dari luar di antaranya kapal Cina yang datang untuk berniaga dengan
penduduk setempat, yang di perdagangkannya adalah garam, hasil pertanian dan
terasi. Kemudian Ki Gendeng Alang-alang mendirikan sebuah pemukiman di
lemahwungkuk yang letaknya kurang lebih 5 km, ke arah Selatan dari Muara Jati.
Karena banyak saudagar dan pedangan asing juga dari daerah-daerah lain yang
bermukim dan menetap maka daerah itu di namakan Caruban yang berarti campuran
kemudian berganti Cerbon kemudian menjadi Cirebon hingga sekarang.
Raja Pajajaran Prabu Siliwanggi
mengangkat Ki Gede Alang-alang sebagai kepala pemukiman baru ini dengan gelar
Kuwu Cerbon. Daerahnya yang ada di bawah pengawasan Kuwu itu dibatasi oleh Kali
Cipamali di sebelah Timur, Cigugur (Kuningan) di sebelah Selatan, pengunungan
Kromong di sebelah Barat dan Junti (Indramayu) di sebelah Utara. Setelah Ki
Gedeng Alang-alang wafat kemudian digantikan oleh menantunya yang bernama
Walangsungsang putra Prabu Siliwanggi dari Pajajaran. Walangsungsang ditunjuk
dan diangkat sebagai Adipati Carbon dengan gelar Cakrabumi. Kewajibannya adalah
membawa upeti kepada Raja di ibukota Rajagaluh yang berbentuk hasil bumi, akan
tetapi setelah merasa kuat meniadakan pengiriman upeti, akibatnya Raja mengirim
bala tentara, tetapi Cakrabumi berhasil mempertahankannya.
Kemudian Cakrabumi memproklamasikan
kemerdekaannya dan mendirikan kerajaan Cirebon dengan memakai gelar Cakrabuana.
Karena Cakrabuana telah memeluk agama Islam dan pemerintahannya telah menandai
mulainya kerajaan kerajaan Islam Cirebon, tetapi masih tetap ada hubungan
dengan kerajaan Hindu Pajajaran.
Semenjak itu pelabuhan kecil Muara
Jati menjadi besar, karena bertambahnya lalu lintas dari dan ke arah pedalaman,
menjual hasil setempat sejauh daerah pedalaman Asia Tengara. Dari sinilah awal
berangkat nama Cirebon hingga menjadi kota besar sampai sekarang ini. Pangeran
Cakra Buana kemudian membangun Keraton Pakungwati sekitar Tahun 1430 M, yang
letaknya sekarang di dalam Komplek Keraton Kasepuhan Cirebon
B. PENGERTIAN UPACARA PANJANG JIMAT
Upacara Panjang Jimat yang merupakan rentetan dari acara maulidan di Keraton
Kasepuhan awalnya hanyalah sebuah upacara peringatan kelahiran nabi Muhammad
Saw saja yang di dalamnya terdapat ritual-ritual khusus sebagai simbol untuk
meneladani kerasulannya.
Panjang Jimat adalah sebuah ritual tradisional yang rutin dan turun temurun di
laksanakan di Keraton Cirebon (Kanoman, Kasepuhan, Kacirebonan dan Kompleks
makam Syekh Syarief Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati, pendiri kasultanan
Cirebon), tiap malam 12 Rabiul Awal atau Maulid, yakni bertepatan dengan hari
kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dan memang, tujuan utama dari panjang jimat ini
sendiri adalah untuk memperingati dan sekaligus mengenang hari kelahiran Nabi
Muhammad. Sebutan Panjang Jimat sendiri adalah berasal dari dua kata yaitu
Panjang dan Jimat. Panjang yang artinya lestari dan Jimat yang berarti pusaka.
Jadi, secara etimologi, panjang jimat berarti upaya untuk melestarikan pusaka
paling berharga milik umat Islam selaku umat Nabi Muhammad yaitu dua kalimat
syahadat. Atau kalau merujuk pada utak atik gatuk dalam bahasa Jawa Cirebon,
jimat yang dimaksud adalah siji kang dirohmat yakni, lafadz Syahadat itu
sendiri.
Prosesi adat “Panjang Jimat” adalah refleksi dari proses kelahiran Nabi
Muhammad SAW dan merupakan acara puncak dari serangkaian kegiatan Maulud Nabi
Muhamad di Keraton Kasepuhan Cirebon. “Panjang” berarti sederetan iring-iringan
berbagai benda pusaka dalam prosesi itu dan “Jimat” berarti “siji kang dirumat”
atau satu yang dihormati yaitu kalimat sahadat “La Illa ha Illahah” sehingga
arti gabungan dua kata itu adalah sederetan persiapan menyongsong kelahiran
nabi yang teguh mengumandangkan kalimat sahadat kepada umat di dunia. Pada
umumnya masing-masing upacara terdiri atas kombinasi berbagai macam unsur
upacara seperti berkorban, berdo’a, bersaji makan bersama, berprosesi, semadi,
dan sebagainya. Urutannya telah tertentu sebagai hasil ciptaan para
pendahulunya yang telah menjadi tradisi.
Pengaruh Khalifah Sholahuddin Al
Ayubi seperti telah dijelaskan kemudian menyebar ke seluruh dunia termasuk ke
Kerajaan Cirebon dan Sultan Cirebon Syarif Hidayatullah kemudian mengadopsikan
acara maulud nabi itu dengan budaya Jawa sehingga menjadi prosesi Panjang
Jimat. Secara serentak, upacara pelal Panjang Jimat di Cirebon diselenggarakan
di empat tempat yang menjadi peninggalan dari Syarief Hidayatullah.
Masing-masing di Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton
Kacirebonan/Kasunanan dan kompleks makam Syekh Syarief Hidayatullah pendiri
Kasultanan Cirebon atau lebih dikenal dengan Sunan Gunung Djati.
Ada beberapa pengertian mengenai
Panjang Jimat, yaitu :
a. Panjang, artinya terus menerus diadakan, yakni satu
kali setahun. Jimat, maksudnya dipuja-puja (dipundi-pundi/dipusti-pusti) di
dalam memperingati hari lahir Nabi Besar Muhammad saw.
b. Panjang Jimat, sebuah piring besar (berbentuk elips
atau bundar) terbuat dari kuningan atau porselin. Dan Panjang Jimat bagi
Cirebon mempunyai sejarah khusus yakni salah satu benda pusaka Kraton Cirebon
ialah merupakan sebuah pemberian dari Sang-hyang Bango ketika masa pengembangan
dari Raden Walangsungsang (Pangeran Cakrabuana), di dalam rangka mencari agama
Nabi (agama islam). Maka besar kemungkinan inilah sebabnya masyarakat Cirebon
menyebut-nyebut iring-iringan Panjang Jimat (piring panjang jimat di Kraton
Kanoman dan pendil jimat di Kraton Kasepuhan).
c. Saat turunnya/keluarnya Panjang Jimat ini sebagai
Penggambaran lahirnya sang bayi, jadi sebenarnya kita harus mengerti bahwa
pawai allegorie tadi memiliki falsafah yang sangat tinggi, yang erat sekali
hubungannya di kala itu dengan syi’ar Islam.
C. PELAKSANAAN DAN PERUBAHAN UPACARA PANJANG JIMAT
1. Pelaksanaan Upacara
Panjang Jimat
Ritual-ritual Panjang Jimat hampir
sama dengan upacara yang lainnya, yang semuanya mengukuhkan homogenitas model
Jawa yang orisil. Maka pada saat itu tampaklah raja melakukan miyos dalem
(penampilan raja kehadapan rakyatnya). Kemampuan raja mencapai kesatuan
dimanfaatkan untuk mendengarkan keabsahan keraton. Pada kegiatan itu raja
menyampaikan berkahnya untuk kesejahteraan rakyatnya
Di Keraton Kasepuhan Panjang Jimat
diturunkan oleh petugas dan ahli agama di lingkungan kerabat kesultanan Keraton
kasepuhan, yang terdiri atas:
1) Diadakan Susrana Tahap ini diadakan di
gedung/bangsal dalem. Disinilah disajikan Nasi Rosul sebanyak 7 golongan, untuk
tiap-tiap golongan ditumpangkan/ditempatkan di atas tasbih/piring besar.
Petugas-petugasnya adalah : Nyi Penghulu, Nyi Krum yang disaksikan oleh para
Ratu Dalem. Di belakang Bangsal Dalem yang disajikan air mawar, kembang goyah,
“serbad boreh” (panem) dan hidangan tumpeng 4 “pangsong”/”ancek”/”angsur”. Yang
berisi kue-kue dan tempat dong-dang yang berisis makanan, petugasnya adalah Nyi
Kotif Agung, Nyi Kaum dengan disaksikan oleh para Ratu/family kasultanan.
2) Di Gedung Bangsal Prabayaksa yaitu sebelah utara
bangsal dalem dan di bangsal Pringgadani (sebelah utara bangsal Prabayaksa),
diperuntukan bagi para undangan di tengah ruangan dilowongkan untuk deretan
upacara, terus dari Jinem ke Sri Manganti.
Adapun urutan-urutan dan
atribut-atribut yang digunakan dalam upacara Panjang Jimat ini adalah :
A. Beberapa lilin dipasang di atas standartnya (dahulu
pakai dlepak/dian)
B. Dua buah Manggaran, dua buah Nagan dan dua buah
Jantungan.
C. Kembang Goyak (Kembang bentuk sumping) 4 (empat)
kaki.
D. Serbad dua buah guci dan dua puluh botol bir
tengahan.
E. Boreh/Parem.
F. Tumpeng.
G. Ancak Sanggar (panggung) 4 buah yang keluar dari
pintu Bangsal Pringgandani.
H. 4 buah dongdang berisi masakan, menyusul
belakangan, keluar pintu Barat Bangsal
Pringgandani pula, ke teras
Jinem.
Pada puncak malam 12 Rabiul Awal,
yang oleh masyarakat Cirebon disebut dengan malam pelal inilah diadakan ritual
seremonal Panjang Jimat dengan mengarak berbagai macam barang yang sarat akan
makna filosofis, diantaranya barisan orang yang mengarak nasi tujuh rupa atau
nasi jimat dari Bangsal Jinem yang merupakan tempat sultan bertahta ke masjid
atau mushala keraton, yang memiliki makna filosofis sebagai hari kelahiran nabi
yang suci yang dilambangkan melalui nasi jimat ini. Nasi jimat sendiri konon
berasal dari beras yang disisil (proses mengupas beras dengan tangan dan mulut)
selama setahun oleh abdi keraton perempuan yang sepanjang hidupnya memutuskan
untuk tidak pernah menikah atau disebut juga dengan perawan sunti.
Nasi Jimat itu diarak dengan
pengawalan 200 barisan abdi dalem yang masing-masing dari mereka membawa
barang-barang yang memiliki simbol-simbol tertentu seperti lilin yang bermakna
sebagai penerang, kemudian nadaran, manggar, dan jantungan yang merupakan
simbol dari betapa agung dan besarnya orang yang dilahirkan pada saat itu,
yakni Nabi Muhammad SAW. selanjutnya, di belakang orang-orang yang membawa
jantungan dan sebagainya itu, menyusul barisan abdi dalem keraton yang membawa
air mawar dan kembang goyang yang melambangkan air ketuban dan ari-ari sang
jabang. Kemudian di barisan berikutnya, ada abdi dalem keraton yang pembawa air
serbat yang disimpan di 2 guci yang melambangkan darah saat bayi dilahirkan.
Kemudian 4 baki yang menjadi lambang 4 unsur yang ada dalam diri manusia, yakni
angin, tanah, api dan air.
Iring-iringan ini yang berawal dari
Bangsal Prabayaksa akan menuju satu tempat yakni Langgar Agung di mana nantinya
akan di sambut oleh pengawal pembawa obor yang yang bisa dimaknai sebagai sosok
Abu Thalib, sang paman nabi ketika beliau menyambut kelahiran keponakannya
lahir yang pada saatnya kemudian tumbuh menjadi manusia agung pengemban amanat
dari Tuhan untuk menyebarkan agama Islam.
Sesampainya di sana langgar agung
itu, nasi jimat tujuh rupa itu kemudian dibuka berikut sajian makanan lain
termasuk makanan yang disimpan dalam 38 buah piring pusaka. Piring pusaka ini
dikenal amat bersejarah dan paling dikeramatkan karena merupakan peninggalan
Sunan Gunung Djati, dan berusia lebih dari 6 abad. Di Langgar Agung ini
dilakukan shalawatan serta pengajian kitab Barjanzi hingga tengah malam.
Pengajian dipimpin imam Masjid Agung
Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan. Setelah itu makanan tadi disantan
bersama-sama. Di sinilah kejadian unik berlaku. Rakyat yang berjubel-jubel di
luar masjid, berusaha berebutan menyalami atau sekadar menyentuh tangan PRA
Arief, Sultan Kasepuhan. Dalam keyakinan masyarakat, bila berhasil menyentuh
calon Sultan tersebut, maka ia akan mendapatkan berkah dalam kehidupannya. Tak
heran bila PRA Arief mendapat pengawalan ketat dari pengawal keraton.
2. Perubahan Upacara Panjang Jimat
Pelaksanaan upacara Panjang Jimat
sekarang mengalami perubahan atau pergeseran. Secara umum perubahan pelaksanaan
Panjang Jimat tersebut bukan terletak pada struktur upacaranya tapi dalam
bentuk permukaannya. Perubahan penyelenggaraan dalam bentuk permukaannya banyak
berubah dilakukan untuk mendukung program pemerintah yakni pariwisata dan
pembangunan. Sedangkan mengenai tujuan, kesakralan, struktur secara intern
masih tetap terjaga. Prosesi upacara masih lengkap meskipun sedikit ada
penyederhanaan.
Seperti yang telah diketahui bahwa
upacara Panjang Jimat di Keraton Kasepuhan sudah ada sejak jaman dahulu dan
sampai sekarang masih dilakukan oleh masyarakat Cirebon. Hal ini khususnya
dikarenakan masyarakat masih memegang teguh adat istiadat ataupun kebiasaan
akan tradisi yang diwariskan turun temurun. Secara prinsip, upacara panjang
Jimat tetap dilakukan dari tahun ke tahun, namun dalam pelaksanaannya lebih
ditingkatkan yakni dilaksanakan dengan lebih besar, meriah, diisi dengan
program pembangunan dan dikaitkan dengan pariwisata. Terdapat suatu indikasi bahwa
hal ini disebabkan karena sudah memasuki jaman globalisasi yang serba modern.
Akibat dari globalisasi tersebut
menyebabkan upacara Panjang Jimat yang merupakan salah satu adat atau kultur
Keraton kasepuhan juga mengalami perubahan. Hal ini sebenarnya tidak menjadi
masalah karena meskipun mengalami perubahan tapi tetap mempunyai struktur,
tujuan, esensi yang sama dengan pelaksanaan grebeg maulud dahulu. Nilai
kesakralan dan getaran emosi masyarakat masih tetap ada.
Selanjutnya jika dilihat perubahan
dalam pelaksanaan upacara Panjang Jimat saat ini terletak pada bentuk luarnya
yaitu untuk mendukung program pariwisata dan pembangunan seperti diketahui
bahwa sebelum upacara dimulai dengan pesta rakyat menyongsong perayaan Panjang
jimat, yakni berupa keramaian untuk hiburan masyarakat. Apabila jaman dahulu
dalam Panjang Jimat ini tidak ada keramaian berupa pasar malam dan para
pedagang, maka sekarang mereka ada dan sangat ramai sekali. Pekan raya atau
pasar malam yang dipergunakan untuk kepentingan pariwisata dan pembangunan,
antara lain:
1. Sebagai arena rekreasi bagi masyarakat misalnya;
sirkus, arena permainan anak-anak, panggung kesenian (musik) dan lain-lain
2. Sebagai forum informasi dan komunikasi tentang
kebijaksanaan yang dapat diperoleh dari eksposisi atau pameran dari instansi
pemerintah
3. Sebagai sarana melestarikan kesenian kebudayaan
daerah. Untuk itu disediakan panggung kesenian daerah, pentas kesenian daerah
dan lainnya.
Pasar malam tersebut dipakai sebagai
ajang berjualan bagi para pedagang seperti penjual makanan, minuman, mainan
anak-anak, pakaian, sepatu, bunga dan lainya. Akibat adanya pasar malam dalam
perayaan sekaten membuat susana menjadi meriah dan ramai. Disamping itu dalam
kegiatan pasar malam tersebut juga diadakan kegiatan keagamaan khususnya agama
islam. Kegiatan keagamaan itu antara lain santapan rohani melalui menara
siaran, pengajian umum, pameran keagamaan. Pentas seni keagamaan, tabligh di
masjid besar dan lainnya.
Hal utama yang paling terlihat
adalah maksud dan tujuan masyarakat khususnya generasi muda yang akan datang ke
acara Panjang Jimat ini. Pada masa Syarif Hidayatullah ketika Panjang Jimat ini
diadakan masyarakat memang benar-benar khusyuk mengikuti ritual Panjang Jimat
ini dan mendengarkan ilmu agama dari tabligh yang diadakan oleh ulama. Sekarang
keadaannya bergeser, mereka malah lebih bertujuan untuk mengunjungi pasar malam
khususnya anak-anak remaja. Memang masih banyak golongan tua yang benar-benar
berniat untuk mengikuti Panjang Jimat ini secara keseluruhan, namun kebanyakan
dari generasi mudanya hanya ingin datang ke pasar malamnya saja.
Upacara Panjang Jimat dalam bentuk
luarnya telah mengalami pergeseran khususnya dari kalangan anak muda yang
kurang memperhatikan kesakralan dari makna Panjang Jimat itu sendiri. Demikian
adalah beberapa perubahan yang terjadi pada pelaksanaan upacara Panjang Jimat
saat ini. Tampak dalam perubahannya bukan yang menyangkut strukur tapi yang
mendukung pariwisata dan pembangunan secara prinsipil kesakralan, tujuan, nilai
serta struktur dalam upacara grebeg tidak mengalami perubahan.
Meskipun dalam prosesi upacara ada
sedikit perbedaan hal tersebut disebabkan karena perubahan jaman, dianggap
lebih praktis, ekonomis, sehingga dalam pelaksanaan upacara ada sedikit
perkembangan bila dibandingkan dengan dahulu.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Upacara Maulid Nabi adalah suatu
bentuk kebudayaan tradisional. Maulid Nabi merupakan suatu salah satu bentuk
rasa cinta umat kepada Rasul Nya. Awal mula dari Maulid Nabi ini, pertama kali
oleh penguasa bani Fatimah yang pertama menetap di Mesir kemudian sampai ke
Indonesia atas jasa Sultan Salahuddin Al Ayyubi Khalifah dari dinasti Abbasiah,
di Jawa tradisi Maulid Nabi telah ada sejak zaman walisongo sedangkan di Cirebon
sendiri Maulid Nabi setelah Sultan Syarief Hidayatullah berkuasa. Proses dari
Maulid Nabi ini sama seperti upacara lainnya. Dalam proses Maulid Nabi ini
terdapat beberapa lilin yang dipasang di atas standar, manggara, nagam,
jantungan Tumpeng yang mendukung upacara Maulid Nabi.
Dengan berkembangnya jaman yang
semakin modern dan mengarah ke globalisasi, maka Maulid Nabi juga mengalami
perubahan. Di aspek sosial Maulid Nabi sekarang lebih mendukung kepada
pariwisata dan pembangunan namun secara prinsipil kesakralan, tujuan, nilai
serta struktur dalam upacara grebeg tidak mengalami perubahan. Meskipun dalam
prosesi upacara ada sedikit perbedaan hal tersebut disebabkan karena perubahan
jaman, dianggap lebih praktis, ekonomis, sehingga dalam pelaksanaan upacara ada
sedikit perkembangan bila dibandingkan dengan dahulu. Di aspek ekonomi Maulud
Nabi yang dahulu merupakan sebuah upacara peringatan kelahiran nabi Muhammad
Saw saja yang di dalamnya terdapat ritual-ritual khusus sebagai simbol untuk
meneladani kerasulannya kini dijadikan oleh masyarakat sebagai tempat mencari
rezeki.
B. SARAN
Sebagai masyarakat yang berbudaya
dan menghormati perbedaan kebudayaan disekitar kita, sudah seharusnya kita
menjaga dan melestarikan budaya-budaya di sekitar kita. Terutama tradisi di
wilayah kota cirebon khususnya tradisi panjang jimat yang sampai saat ini masih
terjaga keasliannya sebagai salah satu budaya Indonesia yang patut dibanggakan.
DAFTAR
PUSTAKA
http://silihasih.blog.com/sejarah-cirebon/
http://portalcirebon.blogspot.co.id/2011/02/tradisi-panjang-jimat-keraton-cirebon.html
Sulendraningrat, P.S.1985.Sejarah Cirebon.Jakarta:PN
Balai Pustaka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar