Jumat, 30 November 2018

makalah sosiologi ( kekuasaan, wewenang, dan kepemimpinan )


Makalah Sosiologi

“Kekuasaan, Wewenang dan Kepemimpinan”

Dosen pembingbing : Yanto Heryantos,Sos,.M.Si




Nama               : dyfa nur apriani

Program studi   : Ilmu Administasi Negara (AN 1-C)






UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI
2018
Jl. Terusan pemuda no.1 Cirebon 45132 telp (0231)488926



Kata pengantar

    Segala puji saya panjatkan kehadirat Allah SWT hingga saat ini saya diberikan nafas kehidupan dan anugrah akal,sehingga kami dapat menyelesaikan pembuatan tugas ini yang bertemakan “kekuasaan, wewenang dan kepemimpinan” tepat pada waktunya.
       Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah satu tugas matakuliah sosiologi. Dalam makalah ini kita membahas tentang pengantar kekuasaan, hakikat kekuasaan, unsur-unsur saluran kekuasaan dan dimensinya, cara mempertahankan kekuasaan, wewenang,  dan kepemimpinan tak lupa saya ucapkan terimakasih atas perhatiannya terhadap makalah ini dan khususnya para pembaca.
        Tidak ada manusia yang tak luput dari kesalahan dan kekurangan, dengan segala kerendahan hati, saran dan kritik yang sifatnya membangun sangat kami harapkan dari para pembaca guna meningkatkan kualitas makalah ini pada waktu mendatang. 













Cirebon,    November 2018
                                                                                                               Penyusun

                                                                                                     Kelompok  7

DAFTAR ISI

JUDUL  ....................................................................................................................  i
KATA PENGANTAR.............................................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................ iii
       BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar belakang masalah......................................................................................... 1
B. Rumusan masalah ................................................................................................. 1
C. Tujuan penulisan ................................................................................................... 1
       BAB II : PEMBAHASAN
A. Hakikat kekuasaan dan sumbernya ......................................................................  2
B. Unsur-unsur saluran kekuasaan dan dimensiya .................................................... 5
1)      Rasa takut..................................................................................................... 6
2)      Rasa cinta ..................................................................................................... 6
3)      Kepercayaan.................................................................................................. 6
4)      Pemujaan ...................................................................................................... 6
C. Cara-cara mempertahankan kekuasan................................................................... 7
D. Bentuk lapisan kekuasaan..................................................................................... 7
E. Wewenang............................................................................................................. 8
1)      Wewenang kharismatis, tradisional, dan rasional (legal)............................... 9
2)      Wewenang resmi dan tidak resmi.................................................................. 11
3)      Wewenang pribadi dan teritorial.................................................................... 11
4)      Wewenang terbatas dan menyeluruh ............................................................ 12
F. Kepemimpinan (leadership) .................................................................................. 12
1)      Umum ........................................................................................................... 19
2)      Perkembangan kepemimpinan dan sifat-sifat seorang  pemimpin ................ 19
3)      Kepemimpinan menurut ajaran tradisional .................................................... 20
4)      Sandaran kepemimpinan dan kepemimpinan yang dianggap efektif............. 22
5)      Tugas dan metode.......................................................................................... 22

BAB III : PENUTUP
A. Kesimpulan .......................................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 25

BAB I
PENDAHULAN

A.    Latar Belakang
      Kekuasan mempunyai peran yang dapat menentukan nasib berjuta-juta manusia, kekuasaan sangat menarik perhatian para ahli ilmu pengetahuan kemasyarakatan.sesuai dengan sifatnya sebagai ilmu pengetahuan, sosiologi tidak memandang kekuasaan sebagai suatu yang baik atau buruk. Sosiologi mengakui kekuasaan sebagai unsur yang sangat penting dalam kehidupan suatu masyarakat. Penilaian baik atau buruknya senantiasa harus diukur dengan kegunaannya untuk mencapai suatu tujuan yang sudah ditentukan atau disadari oleh masyarakat.
     Wewenang adalah kekuasaan yang ada pada seseorang atau sekelompok orang, yang mempunyai dukungan atau mendapat pengakuan dari masyarakat. Wewenang biasanya terbatas pada hal hal yang diliputinya, waktu dan cara penggunaan kekuasaan itu. Adanya wewenang dapat menjadi efektif apabila didukung dengan kekuasaan yang nyata.
      Adanya kekuasaan dan wewenang pada setiap masyarakat merupakan gejala yang wajar. Walaupun wujudnya kadang-kadang tidak disukai oleh masyarakat itu sendiri karena sifatnya yang mungkin abnormal menurut pandangan masyarakat yang bersangkutan.
B.     Rumusan masalah
1.      Apa yang dimaksud hakikat kekuasaan ?
2.      Unsur-unsur apa saja yang ada dalam saluran kekuasaan ?
3.      Bagaimana cara-cara mempertahankan kekuasaan dan apa saja bentuknya ?
4.      Apa yang dimaksud dengan wewenang ?
5.      Apa yang dimaksud dengan kepemimpinan ?
C.    Tujuan penulisan
1.      Mengetahui unsur yang ada dalam kekuasaan
2.      Cara mempertahankan kekuasaan
3.      Lapisan lapisan dalam kekuasaan
4.      Mengetahui arti kekuasaan
5.      Mengetahui arti dari wewenang
6.      Mengetahui arti kepemimpinan

BAB II
PEMBAHASAN

A.    Hakikat kekuasan dan Sumbernya
Definisi kekuasaan, manurut para ahli sosiologi, yaitu :
a.       Max weber, kekuasaan adalah kemungkinan seorang pelaku mewujudkan keinginannya di dalam suatu hubungan social yang ada termasuk dengan kekuatan atau tanpa mengiraukan landasan yang menjadi pijakan kemungkinan itu.
b.      Selo soemardjan dan soelainan soemardi, menjelaskan bahwa adanya kekuasaan tergantung dari yang berkuasa dan yang dikuasai.
c.       Ralf dahrendorf, kekuasaan adalah milik kelompok, milik individu dari pada milik struktur social.
d.      Soerjono soekanto, kekuasaan diartikan sebagai suatu kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain menurut kehendak yang ada pada pemegang kekuasaan tersebut.
Sumber-sumber Kekuasaan
    Sumber-sumber kekuasaan yang dimiliki para penguasa atau pemimpin, dalam masyarakat informal maupun formal adalah :
a.       Seseorang yang mempunyai harta benda (kekayaan) yang lebih banyak, sehingga mempunyai keleluasan untuk bergerak dan mempengaruhi pihak lain.
b.       Dengan status tertentu, seseorang dapat memberikan pengaruhnya atau memaksa pihak lain supaya melakukan sesuatu sesuai kehendaknya.
c.        Wewenang legal atas dasar peraturan-peraturan formal (hukum) yang dimiliki seseorang, dapat memberikan kekuasaan pada seseorang untuk mempengaruhi pihak lain sesuai dengan hak dan kewajibannya sesuai dengan ketetapan dalam peraturan.
d.      Kekuasaan dalam pula tumbuh dari adanya kepercayaan khalayak, seperti tradisi, kesucian, dan adat istiadat.
e.       Kekuasaan yang tumbuh dari khrisma atau wibawa seseorang.
f.       Kekuasaan yang didasarkan pada pedelegasian wewenang.
g.      Kekuasaan yang tumbuh dari pendidikan, keahlian, serta kemampuan.
     Kekuasaaan terdapat disemua bidang kehidupan dan dijalankan. Kekuasan mencakup kemampuan untuk memerintah ( agar yang diperintah patuh ) dan juga untuk memberi keputusan-keputusan secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi tindakan-tindakan pihak-pihak lainya. Max Weber orang yang menyadarkan masyarakat akan kemauan-kemauannya sendiri dengan sekaligus menerapkannya terhadap tindakan-tindakan perlawanan dari orang-orang atau golonga-golongan tertentu.
   Kekuasaan mempunyai beraneka ragam bentuk dan bermacam-macam sumbernya. Hak milik kebendaan dan kedudukan merupakan sumber kekuasaan, birokrasi juga merupakan salah satu sumber kekuasaan, disamping kemampuan khusus dalam bidang ilmu-ilmu pengetahuan yang tertentu ataupun atas dasar peraturan-peraturan hukum tertentu. jadi kekuasaaan terdapat dimana-mana, dalam hubungan sosial maupun di dalam organisasi sosial, tetapi umumnya kekuasaaan yang tertinggi berada pada organisasi yang dinamakan “Negara”
   Secara formal negara mempunyai hak untuk melaksanakan kekuasaaan tertinggi kalau perlu dengan paksaaan, negaralah yang membagi kekuasaan yang lebih rendah derajatnya, inilah yang dinamakan kedaulatan (sovereignity). Kedaulatan biasanya dijalankan oleh segolongan kecil masyarakat yang menanamkan diri the realing class, ini merupakan gejala yang umum dalam setiap masyarakat, didalamnya pasti ada yang menjadi pemimpin, meskipun menurut hukum dia tidak merupakan pemegang kekuasaan tertinggi. Misal pada negara yang berbentuk kerajaan, sering terlihat perdana mentri mempunyai kekuasaan yang lebih besar dari raja dalam menjalankan kedaulatan negara.
     Gejala lain yang tampak juga adalah perasaan tidak puas ( mereka yang diperintah ) mempunyai pengaruh kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dijalankan oleh the ruling class. Golongan yang berkuasa tak mungkin bertahan tanpa dukungan dari masyarakat oleh karena itu golongan tersebut senantiasa berusaha untuk  memamerkan kekuasaannya terhadap masyarakat agar kekuasaannya dapat diterima masyarakat sebagai kekuasaan yang legal dan baik untuk masyarakat yang bersangkutan. Usaha-usaha golongana yang memegang kekuasaan seperti diterangkan mosca, didalamnya masyarakat- masyarakatyang baru saja bebas dari penjajah dan mendapatkan kemerdekaan politik mengalami kesulitan-kesulitan sebab pokok kesulitan tersebut  terletak pada perbedaan alam pikiran antar golongan yang berkuasa ( yang secara relif maju ) dan alam pikiran antar golongan yang dikuasai yang masih tradisional dan kurang luas pengetahuaannya, oleh sebab itu golongan yang berkuasa harus berusaha untuk menanamkan kekuasaannya dengan jalan menghubungkannya dengan kepercayaan dan perasaan-perasaan yang kuat dalam masyarakat bersangkutan, yang pada dasarnya terwujud dalam nilai dan norma.
   Dengan demikian hakikat kekuasaan dapat terwujud dalam hubungan yang sistematis dan asimetis masing-masing hubungan terwujud dalam kehidupan sehari-hari.
·         Sifat hakikat kekuasaan
1.      Sistematis
a.       Hubungan persahabatan
b.      Hubungan sehari-hari
c.       Hubungan yang bersifat ambivelen
d.      Pertentangan antar mereka yang sejajar kedudukannya
2.      Asistematis
a.       Popularitas
b.      Peniruan
c.       Mengikuti perintah
d.      Tunduk pada pemimpin formal atau informal
e.       Tunduk pada seorang ahli
f.       Pertentangan antar mereka yang tidak sejajar kedudukannya
g.      Hubungan sehari-hari
   Kekuasaan bersumber pada bermacam-macam faktor, apabila sumber kekuasaan dikaitkan dengan kegunaannya maka dapat diperoleh :
·         Sumber kekuasaan
1.      Sumber
a.       Militer, polisi, dan kriminal
b.      Ekonomi
c.       Politik
d.      Hukum
e.       Terdisi
f.       Ideologi
g.      Deversionary power
2.      Kegunaan
a.       Pengendalian kekerasan
b.      Mengendalikan tanah, buruh, kekayaan material dan produksi
c.       Pengambilan keputusan
d.      Mempertahankan, mengubah, melancarkan interaksi
e.       Sistem kepercayaan nilai-nilai
f.       Pandangan hidup, integrasi
g.      Kepentingan rekreatif

B.     Unsur-unsur Saluran Kekuasaan dan Dimensinya
      Kekuasaan dapat dijumpai pada interaksi sosial antar manusia maupun kelompok yang mempunyai beberapa unsur yaitu :
1.      Rasa takut
     Perasaan takut pada seseorang menimbulkan rasa kepatuhan terhadap segala kemauan dan tindakan orang yang ditakuti. rasa takut merupakan perasaan negatif karena seseorang tunduk kepada orang lain dalam keadaan terpaksa. Orang yang mempunyai rasa takut akan membuat segala sesuatu yang sesuai dengan keinginan orang yang ditakutinya agar terhindar dari kesukaran-kesukaran yang akan menimpa dirinya, seandainya dia tidak patuh. Gejala ini dinamakan matched dependent behavior yang tidak mempunyai tujuan konkret bagi yang melakukannya. Rasa takut merupakan gejala unuversal dan biasanya dipergunakan sebaik-baiknya dalam masyarakat yang mempunyai pemerintahan otoriter.
2.      Rasa cinta
      Rasa cinta menghasilkan perbuatan-perbuatan yang bersifat positif, rasa cinta biasanya telah mendarah daging dalam diri seseorang ataupun kelompok orang, rasa cinta yang efisien harus dimulai dari pemimpin maka kekuasaan akan dapat berjalan baik dan teratur.
3.      Kepercayaan
      Kepercayaan akan timbul sebagai hubungan langsung antar dua orang atau lebih yang bersifat asosiatif.
4.      Pemujaan
      Dalam sistem pemujaan seseorang atau kelompok yang memegang kekuasaan mempunyai dasar pemujaan dari orang lain akibatnya segala tindakan penguasa dibenarkan atau setidak-tidaknya dianggap benar.
  Apabila dilihat dari masyarakat, kekuasaan di dalam pelaksanaannya dijalankan melalui saluran-saluran tertentu, saluran tersebut banyak sekali tetapi kita hanya membatasi pada saluran sebagai berikut :
a.       Saluran militer
     Apabila saluran ini dipergunaka penguasa akan lebih banyak mempergunakan paksaan serta kekuatan militer dalam melaksanakan kekuasaannya. Tujuan utamanya untuk menimbulkan rasa takut dalam diri masyarakat hingga mereka tunduk kepada kemauan penguasa. Untuk keperluan tersebut dibentuk organisasi atau pasukan khusus yang bertindak sebagai dinas rahasia hal ini banyak dijumpai pada negara-negara otoriter.
b.      Saluran ekonomi
       Penguasa berusaha menguasai kehidupan masyarakat dengan jalan menguasai perekonomian yang ada.
c.       Saluran politik
      Pemerintah berusaha untuk membuata peaturan yang dibuat oleh badan-badan yang sah yang harus ditaati oleh masyarakat.
d.      Saluran tradisional
     Dengan cara menyesuaikan tradisi pemegang kekuasaan dapat berjalan dengan lebih lancar. Dengan cara demikian, akan ditemukan suatu titik temu antara tradisi-tradisi tersebut sehinga dapat mencegah atau mengatasi reaksi negatif.
e.       Saluran ideoloi
      Penguasa- penguasa dalam masyarakat biasanya mengemukakan serangkaian ajaran-ajaran atau doktrin-doktrin yang bertujuan untuk menerangkan dan sekaligus memberi dasar pembenaran bagi pelaksanaan kekuasaannya. Dilakukan supaya kekuasaan dapat menjelma menjadi wewenang.
f.       Saluran lainnya (media massa)
       Media massa mendapat tempat yang penting sebagai saluran pelaksanaan kekuasaan yang dipegang oleh suatu penguasa.

C.    Cara-cara mempertahankan kekuasaan
    Demi menjaga kestabilan masyarakat untuk mempertahankan kekuasaan dilakukan dengan Cara sebagai berikut:
1.      Menghilangkan segenap peraturan-peraturan lama, terutama dalam bidang politik yang merugikan kedudukan penguasa dimana peraturan-peraturan tersebut akan digantikan dengan peraturan baru, keadaan tersebut biasanya terjadi pada waktu ada pergantian kekuasaan dari seorang penguasa kepada penguasa lain.
2.      Mengadaka sistem-sistem kepercayaan yang akan dapat memperkokoh kedudukan penguasa atau golongannya yang meliputi agama indeologi dll.
3.      Pelaksanaan administrasi dan birokrasi yang baik.
4.      Mengadakan konsolidasi horizontal dan vertikal.
   Apabila dalam suatu bidang kehidupan terdapat orang yang kuat dan berkuasa meka timbul suatu pusat kekuasaan (power centre). Sudah tentu timbul pusat-pusat kekuasaan lain yang mungkin merupakan oposisi. Konkuresi terhadap kekuasaan akan selalu ada dapat dilakukan secara bebas ataupun terbatas tergantung pada struktur masyarakat. Dengan demikian, penguasa mempunyai beberapa cara untuk memperkuat kedudukannya yaitu sebagai berikut:
1.      Dengan menguasai bidang-bidang kehidupan tertentu yang dilakukan dengan cara damai atau persuasif.
2.      Dengan jalan menguasai bidang-bidang kehidupan masyarakat dengan paksa atau kekerasan.

D.    Beberapa bentuk lapisan kekuasaan
      Setiap tahapan perkembangan dari suatu masyarakat tertentu mempunyai ciri-ciri sistem lapisan kekuasaan yang khusus. Perlu pula ditambahkan behwa kekuasaan bukanlah semata-mata berarti bahwa banyak orang tunduk dibawah penguasa.
Menurut maclver ada tiga pola umum lapisan kekuasaan atau piramida kekuasaan yaitu:
a.       Tipe pertama (tipe kata) adalah sistem lapisan kekuasaan dengan garis pemisah yang tegas dan kaku, biasanya dijumpai pada masyarakat yang berkasta dimana hampir tak terjadi gerak sosial vertikal.
Kedudukan tertinggi adalah maha raja, penguasa dan sebaginya dengan lingkungan yang didukung oleh kaum bangsawan, tentara, dan para pendeta. Lapisan kedua terdiri dari petani, buruh, yang kemudian diikuti dengan lapisan terendah dalam masyarakat yaitu budak.
b.      Tipe yang kedua (tipe olagarkis) masih mempunyai garis pemisah yang tegas tapi dasar perbedaan kelas sosialnya ditentukan oleh kebudayaan masyarakat, terutama pada kesempatan yang diberikan oleh para warga untuk memperoleh kekuasaan tertentu. Bedanya dengan tipe yang pertama adalah walaupun kedudukan para warga pada tipe kedua masih didasarkan kelahiran namun individu masih diberi kesempatan untuk naik lapisan.
Kelas menengah mempunyai warga yang paling banyak seperti kaum industri, perdagangan, dan keuangan menengah, kelas mengah  memegang peran penting untuk membantu lapisan bawah naik tingkat dan kelas menengan bisa jadi penguasa.
c.       Tipe yang ketiga (tipe demokratis)kelahiran tidak menentukan seseorang, yang terpenting adalah kemampuan dan juga faktor keberuntungan, tipe ini dibuktikan dari anggota-anggota partai politik yang dalam suatu masyarakat demokratis dapat mencapai kedudukan-kedudukan tertentu melalui partai.

E.     Wewenang
Definisi wewenang, menurut para ahli sosiologi, yaitu:
a.       George R.Terry, menjelaskan bahwa wewenang merupaka hak jabatan yang sah untuk memerintahkan orang lain bertindak dan untuk memaksa pelaksanaannya. Dengan wewenang, seseorang dapat mempengaruhi aktifitas atau tingkah laku perorangan dan grup.
b.       Mac Iver R.M, wewenang merupakan suatu hak yang didasarkan pada suatu pengaturan social, yang berfungsi untuk menetapkan kebijakan, keputusan, dan permasalahan penting dalam masyarakat.
c.       Soerjono Soekanto, bila orang-orang membicarakan tentang wewenang, maka yang dimaksud adalah hak yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang.
d.       Max weber, wewenang adalah sebagai kekuasaan yang sah.
     Dipandang dari sudut masyarakat, kekuasaan tanpa wewenang merupakan kekuasaan yang tidak sah. Kekuasaan harus mendapatkan pengakuan dan pengesahan dari masyarakat agar menjadi wewenang. Wewenang hanya akan mengalami perubahan dalam bentuk. Perkembangan suatu wewenang terletak pada arah serta tujuan untuk sebanyak mungkin memenuhi bentuk yang diidamkan oleh masyarakat, ada beberapa bentuk wewenang yaitu :
1.      Wewenang kharismatis, tradisional, dan rasional (legal)
    Perbedaan antara tiga wewenang itu dikemukakan oleh Max Weber. Perbedaan tersebut didasarkan pada hubungan antar tindakan dengan dasar hukum yang berlaku.
    Wewenang kharismatis merupakan wewenang yang didasarkan pada kharisma, yaitu suatu kemampuan khusus yang ada pada diri seseorang yang sudah melekat dalam diri seseoran karena anugrah Tuhan Yang Maha Kuasa. Wewenang kharismatis akan dapat tetap bertahan selama dapat dibuktikan keampuhannya bagi seluruh masyarakat. Contohnya nabi, para rosul, penguasa terkemuka dalam sejarah dan lain-lain. Dasar dari wewenang kharismatis bukanlah terletak pada suatu peraturan (hukum) tetapi bersumber pada diri pribadi individu yang bersangkutan.  Khasirmatis semakin meningkat sesuai dengan kesanggupan individu yang bersangkutan untuk membuktikan manfaatnya bagi masyarakat, wewenang khasismatis dapat berkurang bila merugikan masyarakat sehingga kepercayaan masyarakat terhadapnya menjadi berkurang.
    Wewenang tradisional dapat dipunyai oleh seseorang maupun sekelompok orang dengan kata lain wewenang tersebut dimiliki oleh orang yang menjadi kelompok yang sudah mempunyai kemampuan khusus seperti pada wewenang kharismatis.
Ciri utama wewenang tradisional adalah :
1.      Adanya ketentuan tradisional yang mengikat penguasa yang mempunyai wewenang serta orang lainnya dalam masyarakat.
2.      Adanya wewenang yang lebih tinggi ketimbang kedudukan seseorang yang hadir secara pribadi.
3.      Selama tak ada pertentangan dengan ketentuan tradisional orang-orang bertindak secara bebas.
      Wewenang tradisional dapat juga berkurang bahkan hilang disebabkan karena pemegang kekuasaan tidak dapat mengikuti perkembangan masyarakat. Masyarakat yang menyadarkan diri pada tradisi biasanya lambat sekali berkembang walaupun begitu, wewenang pada tradisi harus menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan kemasyarakatan.
     Wewenang rasional atau legal adalah wewenang yang didasarkan pada sistem hukum yang berlaku dalam masyarakat. Sistem hukum disini dipahamkan sebagai kaidah yang telah diakui serta ditaati masyarakat dan bahkan yang telah diperkuat oleh negara. Pada wewenang yang didasarkan pada sistem hukum harus dilihat juga pada sistem hukumnya bersandar pada tradisi, agam, atau faktor lain kemudian harus ditelaah pula hubungannya dengan sistem kekuasaan serta diuji pula apakah sistem hukum tadi cocok atau tidak dengan sistem kebudayaan masyarakat supaya kehidupan dapat berjalan dengan tenang dan tenteram.
     Apabila tiga wewenang tersebut ditelaah lebih mendalam akan terlihat bahwa tiga-tiganya dapat dijumpai dalam masyarakat, walaupun hanya salah satu yang menonjol saja. Di dalam masyarakat yang mempunyai perubaha cepat, mendalam, dan meluas wewenang kharismatis mendapat kesempatan untuk tampil dimuka. Dalam keadaan demikian tradisi tidak mendapat penghargaan selayaknya dari masyarakat, lagi pula kaidah-kaidah dan nilai-nilai sosial tidak lagi dapat digunakan sebagi pedoman tegas bagi para warga. Oleh karena itu golongan-golongan masyarakat yang biasa dipimpin dengan sukarela mengikuti orang yang cakap. Barangsiapa pernah mengalami revolusi fisik indomesia pada 1945 akan mengatahui betapa besar daya tarik para pemimpin masyarakat yang memiliki kharisma di dalam mengarahkan masyarakat pada waktu itu.
     Max Weber mengemukakan pendapat bahwa kecenderungan dari wewenang kharismatis untuk dijadikan kekuasaan tetap dengan mengabdikan kepentingan serta cita-cita para pengikut kharismatis tadi kedalam kehidupan bersama kelompok dan kepentingan untuk mempererat hubungan satu denagn yang lainnya. Masalah akan timbul bila yang memiliki kharisma sudah tak ada lagi. Beberapa cara yang dapat ditempuh untuk mengatasi masalah tersebut antara lain:
a.       Mencari seseorang untuk memenuhi ukuran-ukuran atau kriteria wewenang karismatis sebagaimana ditentukan oleh masyarakat.
b.       Dengan mengadakan penyaringan atau seleksi.
c.       Seseorang yang mempunyai wewenag kharismatis, menunjukan penggantinya serta mengakui kekuasaannya dimana masyarakat luas juga mengakuinya.
d.      Penunjukan oleh pembantu-pembantu penguasa terdahulu yang dipercayai oleh masyarakat.
e.       Menciptakan suatu sistem kepercayaan bahwa kharisma dapat diwariskan kepada keturunan atau seseorang yang masih ada hubungan keluarga dengan orang yang mempunya kharisma tersebut.
f.       Menciptakan sistem kepercayaan bahwa dengan upacar-upacar tradisional tertentu kharisma dapat dialihkan pada orang lain.
Proses perubahan wewenang kharismatis menjadi kekuasaan dan wewenang yang tepat tidak mustahil menimbulkan pertikaian-pertikaian. Bagi penganut kharismatis, kadang-kadang tidak mudah untuk melupakan bahwa wewenang tersebut pernah melekar pada diri pribadinaya.
2.      Wewenang resmi dan tidak resmi
  Dalam setiap masyarakat akan dapat dijumpai aneka bentuk kelompok. Dalam kehidupan kelompok tadi sering kali timbul masalah tentang derajat resmi suatu wewenang yang berlaku di dalamnya, seringkali wewenang yang berlaku dalam kelompok-kelompok kecil tersebut sebagai wewenang yang tidak resmi karena bersifat spontan, situasional, dan didasarkan pada faktor saling mengenal. Wewenang demikian tidak diterapkan secara sistematis keadaan seperti ini dapat dijumpai misalnya, pada ciri seorang ayah yang fungsinya sebagai kepala rumah tangga ataupun seorang guru yang sedang mengajar di muka kelas. Wewenang tidak resmi biasanya timbul dalam hubungan antar pribadi yang sifatnya situasional dan sangat ditentukan oleh kepribadian para pihak.
   Wewenang resmi sifatnya sistematis, diperhitungkan, dan rasional. Biasanya wewenang tersebut dapat dijumpai pada kelompok-kelompok besar yang memerlukan aturan-aturan tata tertib yang tegas dan bersifat tetap. Di dalam kelompok tadi, karena banyaknya anggota, biasanya hak serta kewajiban para anggota, kedudukan serta peran siapa-siapa yang menetapkan kebijaksanaan dan siap pelaksananya, dan seterusnya ditentukan dengan tegas. Walaupun demikian, dalam kelompok besar dengan wewenang resmi tersebut, mungkin saja ada wewenag yang tidak resmi. Tidak semua dijalankan atas peraturan-peraturan resmi yang sengaja dibentuk.
3.      Wewenang pribadi dan teritorial   
   Pembedaan wewenang pribadi dan tertorial sebenarnya timbul dari sifat dan dasar kelompok- kelompok tertentu, kelompok tersebut mungkun timbul karena adanya ikatan darah, atau mungkin juga karena ikatan faktor tempat tinggal, atau karena dua gabungan faktor tersebut. Di indonesia dikenal kelompok- kelompok atas dasar ikatan darah contohnya seperti, marga, belah, dan sebagainya. Sebaliknya dikenal juga dengan nama desa yang lebih didasarkan pada teritorial.
   Wewenang pribadi sangat terganting pada solidaritas antar anggota-anggota kelompok dan unsur kebersamaan sangat memegang peranan. Pada individu dianggap lebih banyak memiliki kewajiban ketimbang hak. Struktur wewenang bersifat konsentris, yaitu dari satu titik pusat lalu meluas melalui lingkaran-lingkaran wewenag tersebut, setiap lingkaran wewenang memiliki kekuasaan penuh di wilayahnya masing-masing.
       Pada wewenag teritorial wilayah tempat tingggal memegang peran yang sangat penting. Pada kelompok-kelompok teritorial unsur kebersamaan cenderung berkurang karena desakan faktor-faktor individualisme. Pada wewenag teritorial ada kecenderungan untuk mengadakan sentralisasi wewenag yang memungkinkan hubungan langsung dengan para warga.
4.      Wewenang terbatas dan menyeluruh
     Apabila bicara tentang wewenag terbatas maksudnya adalah wewenang tidak mencakup sektor atau semua bidang kehidupan. Misalnya seorang jaksa di indonesia, mempunyai wewenang untuk atas nama negar dan mewakili nama masyarakat menuntut seorang warga yang melakukan pidana, namun seorang jaksa tidak berwenang untuk mengadilinya.
     Wewenang menyeluruh berarti usatu wewenag yang tidak dibatasi oleh bidang-bidang kehidupan tertentu, contohnya adalah setiap warga mempunyai wewenag yang menyeluruh atau mutlak untuk mempertahankan kedaulatan wilayahnya. Kedua bentuk wewenang tadi dapat berproses secatra berdampinagan, dimana pada situasi-situasi tertentu.

F.     Kepemimpinan (leadership)
Definisi kepemimpinan, diantaranya :
a.       Kepemimpinan adalah perilaku seseorang individu ketika ia mengarahkan aktivitas sebuah kelompok menuju suatu tujuan bersama (hemphill dan Coons, 1957:7)
b.        Kepemimpinan adalah pengawalan dan pemeliharaan suatu struktur dalam harapan dan interaksi (Stogdill, 1974:411).
c.       Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi yang dilaksanakan dan diarahkan melalui proses komunikasi, ke arah pencapaian tujuan atau tujuan-tujuan tertentu (Tannenbaum, Waschler, dan Massarik, 1961:24).
     Seorang pemimpin harus mengerti tentang teori kepemimpinan agar nantinya mempunyai referensi dalam menjalankan sebuah organisasi. Beberapa teori tentang kepemimpinan antara lain :
1.      Teori Kepemimpinan Sifat ( Trait Theory )
      Analisis    ilmiah tentang kepemimpinan berangkat dari pemusatan perhatian pemimpin itu sendiri. Teori sifat berkembang pertama kali di Yunani Kuno dan Romawi yang beranggapan bahwa pemimpin itu dilahirkan, bukan diciptakan yang kemudian teori ini dikenal dengan ”The Greatma Theory”. Dalam perkembanganya, teori ini mendapat pengaruh dari aliran perilaku pemikir psikologi yang berpandangan bahwa sifat – sifat kepemimpinan tidak seluruhnya dilahirkan akan tetapi juga dapat dicapai melalui pendidikan dan pengalaman. Sifat – sifat itu antara lain : sifat fisik, mental, dan kepribadian.
      Keith Devis merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan organisasi, antara lain:
a.       Kecerdasan
     Berdasarkan hasil penelitian, pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang tinggi di atas kecerdasan rata – rata dari pengikutnya akan mempunyai kesempatan berhasil yang lebih tinggi pula. Karena pemimpin pada umumnya memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengikutnya.
b.      Kedewasaan dan Keluasan Hubungan Sosial
      Umumnya di dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan internal maupun eksternal, seorang pemimpin yang berhasil mempunyai emosi yang matang dan stabil. Hal ini membuat pemimpin tidak mudah panik dan goyah dalam mempertahankan pendirian yang diyakini kebenarannya.
c.       Motivasi Diri dan Dorongan Berprestasi
      Seorang pemimpin yang berhasil umumnya memiliki motivasi diri yang tinggi serta dorongan untuk berprestasi. Dorongan yang kuat ini kemudian tercermin pada kinerja yang optimal, efektif dan efisien.
d.      Sikap Hubungan Kemanusiaan
     Adanya pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan sehingga para pengikutnya mampu berpihak kepadanya.

2.      Teori Kepemimpinan Perilaku dan Situasi
    Berdasarkan penelitian, perilaku seorang pemimpin yang mendasarkan teori ini memiliki kecendrungan kearah 2 hal.
1)      Pertama yang disebut dengan Konsiderasi yaitu kecendrungan seorang pemimpin yang menggambarkan hubungan akrab dengan bawahan. Contoh gejala yang ada dalam hal ini seperti : membela bawahan, memberi masukan kepada bawahan dan bersedia berkonsultasi dengan bawahan.
2)      Kedua disebut Struktur Inisiasi yaitu Kecendrungan seorang pemimpin yang memberikan batasan kepada bawahan. Contoh yang dapat dilihat , bawahan mendapat instruksi dalam pelaksanaan tugas, kapan, bagaimana pekerjaan dilakukan, dan hasil yang akan dicapai.
     Jadi, berdasarkan teori ini, seorang pemimpin yang baik adalah bagaimana seorang pemimpin yang memiliki perhatian yang tinggi kepada bawahan dan terhadap hasil yang tinggi pula.
3.       Teori Kewibawaan Pemimpin
       Kewibawaan merupakan faktor penting dalam kehidupan kepemimpinan, sebab dengan faktor itu seorang pemimpin akan dapat mempengaruhi perilaku orang lain baik secara perorangan maupun kelompok sehingga orang tersebut bersedia untuk melakukan apa yang dikehendaki oleh pemimpin.
4.      Teori Kepemimpinan Situasi
     Seorang pemimpin harus merupakan seorang pendiagnosa yang baik dan harus bersifat fleksibel, sesuai dengan perkembangan dan tingkat kedewasaan bawahan.
5.      Teori Kelompok
     Agar tujuan kelompok (organisasi) dapat tercapai, harus ada pertukaran yang positif antara pemimpin dengan pengikutnya.

     Dari adanya berbagai teori kepemimpinan di atas, dapat diketahui bahwa teori kepemimpinan tertentu akan sangat mempengaruhi gaya kepemimpinan (Leadership Style), yakni pemimpin yang menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan segenap filsafat, keterampilan dan sikapnya. Gaya kepemimpinan adalah cara seorang pemimpan bersikap, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain dalam mempengaruhi orang untuk melakukan sesuatu.Gaya tersebut bisa berbeda – beda atas dasar motivasi , kuasa ataupun orientasi terhadap tugas atau orang tertentu. Diantara beberapa gaya kepemimpinan, terdapat pemimpin yang positif dan negatif, dimana perbedaan itu didasarkan pada cara dan upaya mereka memotivasi karyawan. Apabila pendekatan dalam pemberian motivasi ditekankan pada imbalan atau reward (baik ekonomis maupun nonekonomis) berartitelah digunakan gaya kepemimpinan yang positif. Sebaliknya jika pendekatannya menekankan pada hukuman atau punishment, berarti dia menerapkan gaya kepemimpinan negatif. Pendekatan kedua ini dapat menghasilakan prestasi yang diterima dalam banyak situasi, tetapi menimbulkan kerugian manusiawi.
Selain gaya kepemimpinan di atas masih terdapat gaya lainnya.
1.      Otokratis
 Kepemimpinan seperti ini menggunakan metode pendekatan kekuasaan dalam mencapai keputusan dan pengembangan strukturnya. Kekuasaan sangat dominan digunakan. Memusatkan kekuasaan dan pengambilan keputusan bagi dirinya sendiri, dan menata situasi kerja yang rumit bagi pegawai sehingga mau melakukan apa saja yang diperintahkan. Kepemimpinan ini pada umumnya negatif, yang berdasarkan atas ancaman dan hukuman. Meskipun demikian, ada juga beberapa manfaatnya antaranya memungkinkan pengambilan keputusan dengan cepat serta memungkinkan pendayagunaan pegawai yang kurang kompeten.
2.      Partisipasif
Lebih banyak mendesentrelisasikan wewenang yang dimilikinya sehingga keputusan yang diambil tidak bersifat sepihak.
3.      Demokrasi
Ditandai adanya suatu struktur yang pengembangannya menggunakan pendekatan pengambilan keputusan yang kooperatif. Di bawah kepemimpinan pemimpin yang demokrasis cenderung bermoral tinggi dapat bekerjasama, mengutamakan mutu kerja dan dapat mengarahkan diri sendiri.
4.       Kendali Bebas
Pemimpin memberikan kekuasaan penuh terhadap bawahan, struktur organisasi bersifat longgar dan pemimpin bersifat pasif. Yaitu Pemimpin menghindari kuasa dan tanggung – jawab, kemudian menggantungkannya kepada kelompok baik dalam menetapkan tujuan dan menanggulangi masalahnya sendiri.
    Dilihat dari orientasi si pemimpin, terdapat dua gaya kepemimpinan yang diterapkan, yaitu gaya konsideral dan struktur, atau dikenal juga sebagai orientasi pegawai dan orientasi tugas. Beberapa hasil penelitian para ahli menunjukkan bahwa prestasi dan kepuasan kerja pegawai dapat ditingkatkan apabila konsiderasi merupakan gaya kepemimpinan yang dominan. Sebaliknya, para pemimpin yang berorientasi tugas yang terstruktur, percaya bahwa mereka memperoleh hasil dengan tetap membuat orang – orang sibuk dan mendesak mereka untuk berproduksi.
     Pemimpin yang positif, partisipatif dan berorientasi konsiderasi,tidak selamanya merupakan pemimpinyan terbaik.fiedler telah mengembakan suatumodel pengecualian dari ketiga gaya kepemimpinan diatas,yakni model kepemimpinankontigennis.model ini nyatakan bahwa gaya kepemimpinan yang paling sesuai bergantung pada situasi dimana pemimpin bekerja.dengan teorinya ini fiedler ingin menunjukkan bahwa keefektifan ditunjukkan oleh interaksi antara orientasi pegawai dengan 3 variabel yang berkaitan dengan pengikut, tugas dan organisasi. Ketiga variabel itu adalah hubungan antara pemimpin dengan anngota ( Leader – member rolations), struktur tugas (task strukture), dan kuasa posisi pemimpin (Leader position power). Variabel pertama ditentukan oleh pengakuan atau penerimaan (akseptabilitas) pemimpin oleh pengikut, variabel kedua mencerminkan kadar diperlukannya cara spesifik untuk melakukan pekerjaan, variabel ketiga menggambarkan kuasa organisasi yang melekat pada posisi pemimpin.
   
Model kontingensi Fieldler ini serupa dengan gaya kepemimpinan situasional dari Hersey dan Blanchard. Konsepsi kepemimpinan situasional ini melengkapi pemimpin dengan pemahaman dari hubungan antara gaya kepemimpinan yang efektif dengan tingkat kematangan (muturity) pengikutnya.perilaku pengikut atau bawahan ini amat penting untuk mengetahui kepemimpinan situasional, karena bukan saja pengikut sebagai individu bisa menerima atau menolak pemimpinnya, akan tetapi sebagai kelompok , pengikut dapat menemukan kekuatan pribadi apapun yang dimiliki pemimpin.
    Menurut Hersey dan Blanchard (dalam Ludlow dan Panton,1996 : 18 dst), masing – masing gaya kepemimpinan ini hanya memadai dalm situasi yang tepat meskipun disadari bahwa setiap orang memiliki gaya yang disukainya sendiri dan sering merasa sulit untuk mengubahnya meskipun perlu.
    
Banyak studi yang sudah dilakukan untuk melihat gaya kepemimpinan seseorang. Salah satunya yang terkenal adalah yang dikemukakan oleh Blanchard, yang mengemukakan 4 gaya dari sebuah kepemimpinan. Gaya kepemimpinan ini dipengaruhi oleh bagaimana cara seorang pemimpin memberikan perintah, dan sisi lain adalah cara mereka membantu bawahannya. Keempat gaya tersebut adalah
1.      Directing  
    Gaya tepat apabila kita dihadapkan dengan tugas yang rumit dan staf kita belum memiliki pengalaman dan motivasi untuk mengerjakan tugas tersebut. Atau apabila anda berada di bawah tekanan waktu penyelesaian. Kita menjelaskan apa yang perlu dan apa yang harus dikerjakan. Dalam situasi demikian, biasanya terjadi over-communicating (penjelasan berlebihan yang dapat menimbulkan kebingungan dan pembuangan waktu). Dalam proses pengambilan keputusan, pemimpin memberikan aturan –aturan dan proses yang detil kepada bawahan. Pelaksanaan di lapangan harus menyesuaikan dengan detil yang sudah dikerjakan.
2.      Coaching
    Pemimpin tidak hanya memberikan detil proses dan aturan kepada bawahan tapi juga menjelaskan mengapa sebuah keputusan itu diambil, mendukung proses perkembangannya, dan juga menerima barbagai masukan dari bawahan. Gaya yang tepat apabila staf kita telah lebih termotivasi dan berpengalaman dalam menghadapi suatu tugas. Disini kita perlu memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengerti tentang tugasnya, dengan meluangkan waktu membangun hubungan dan komunikasi yang baik dengan mereka.
3.      Supporting
    Sebuah gaya dimana pemimpin memfasiliasi dan membantu upaya bawahannya dalam melakukan tugas. Dalam hal ini, pemimpin tidak memberikan arahan secara detail, tetapi tanggung jawab dan proses pengambilan keputusan dibagi bersama dengan bawahan. Gaya ini akan berhasil apabila karyawan telah mengenal teknik – teknik yang dituntut dan telah mengembangkan hubungan yang lebih dekat dengan anda. Dalam hal ini kita perlumeluangkan waktu untuk berbincang – bincang, untuk lebih melibatkan mereka dalam penganbilan keputusan kerja, serta mendengarkan saran – saran mereka mengenai peningkatan kinerja.
4.       Delegating
Sebuah gaya dimana seorang pemimpin mendelegasikan seluruh wewenang dan tanggung jawabnya kepada bawahan. Gaya Delegating akan berjalan baik apabila staf kita sepenuhnya telah paham dan efisien dalm pekerjaan, sehingga kita dapat melepas mereka menjalankan tugas atau pekerjaan itu atas kemampuan dan inisiatifnya sendiri.
     Keempat gaya ini tentu saja mempunyai kelemahan dan kelebihan, serta sangat tergantung dari lingkungan di mana seorang pemimpin berada, dan juga kesiapan dari bawahannya. Maka kemudian timbul apa yang disebut sebagai ”situational leadership”. Situational leadership mengindikasikan bagaimana seorang pemimpin harus menyesuaikan keadaan dari orang – orang yang dipimpin.
     Ditengah – tengah dinamika organisasi (yang antara lain diindikasikan oleh adanya perilaku staf / individu yang berbeda – beda), maka untuk mencapai efektivitas organisasi, penerapan keempat gaya kepemimpinan diatas perlu disesuaikan dengan tuntutan keadaan. Inilah yang dimaksud dengan situasional lesdership,sebagaimana telah disinggung di atas. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa untuk dapat mengembangkan gaya kepemimpinan situasional ini, seseorang perlu memiliki tiga kemampuan khusus yakni :
·         Kemampuan analitis (analytical skills) yakni kemampuan untuk menilai tingkat pengalaman dan motivasi bawahan dalam melaksanakan tugas.
·          Kemampuan untuk fleksibel (flexibility atau adaptability skills) yaitu kemampuan untuk menerapkan gaya kepemimpinan yang paling tepat berdasarkan analisa terhadap situasi.
·          Kemampuan berkomunikasi (communication skills) yakni kemampuan untuk menjelaskan kepada bawahan tentang perubahan gaya kepemimpinan yang kita terapkan.




1.      Umum
      Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang untuk memengaruhi orang lain sehingga orang lain tersebut bertingkah laku sebagaimana yang dikehendaki oaleh pemimpin. Kepemimpinan merupakan suatu kompleks dari hak-hak dan kewajiban yang dapat dimiliki oleh seseorang atau suatu badan. Sebagai suatu proses sosial kepemimpinan meliputi segala tindakan yang dilakukan seseorang atau suatu badan yang menyebankan gerak dari masyarakat.
   Kepemimpinan ada yang bersifat resmi yaitu kepemimpinan yang tersimpul dalam suatu jabatan adapula kepemimpinan karena pengakuan masyarakat akan kemampuan seseorang untuk menjalankan kepemimpinan. Suatu perbedaan yang mencolok antara kepemimpinan resmi dan tidak resmi adalah kepemimpinan yang resmi di dalam pelaksanaannya selalu berada diatas landasan-landasan atau peraturan-peraturan resmi dengan demikian daya cakup sanagat terbatas. Kepemimpinan tidak resmi mempunyai ruang lingkup tanpa batasan-batasan resmi, karena kepemimpinan demikian didasarkan atas pengakuan dan kepercayan masyarakat. Ukuran benar tidaknya kepemimpinan tidak resmi terletak pada tujuan dan hasil pelaksanaan kepemimpinan tersebut, menguntungkan atau merugikan masyarakat. Walaupun kepemimpinan tidak resmi boleh menyimpang dari peraturan-peraturan yang ada, pemimpin tersebut dapat melakukan kebijaksanaan yang dapat memancarkan kemampuan mereka sebagi pemimpin. Misalnya, kebijaksanaan tersebut dapat diwujudkan di dalam memilih waktu untuk melaksanakan peraturan-peraturan atau memilih orang-orang yang langsung berhubungan dengan masyarakat untuk melaksanakan peraturan dan seterusnya.

2.      Perkembangan kepemimpinan  dan sifat-sifat  seorang pemimpin
       Sejak mula terbentuknya  suatu kelompok sosial, seseorang atau beberapa  orang diantara warga-warganya melakukan peranan yang lebih aktif daripada rekan-rakannya sehingga orang tadi atau beberapa orang tampak lebihmenonjol dari lain-lainnya. Itulah asal mula timbulnya kepemimpinan.
       Munculnya seorang pemimpin merupakan hasil dari suatu proses dinamis yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan kelompok. Dikalangan masyarakat Indonesia , sifat –sifat yang harus dipenuhi oleh seorang pemimpin, antara lain dapat di jumpai dalam apa yang merupakan warisan tradisional Indonesia, misalnya dalam  “Asta Brata”  yang merupakan kumpulan seloka dalam Ramayana, yang  memuat ajaran Sri Rama kepada  Bharata , yaitu adiknya dari lain ibu.
Asta Brata dalam kakawin Ramayana terdiri dari sepuluh seloka dimana seloka pertama dan kedua berisikan hal-hal sebagai berikut
a.      AstaBrata merupakan suatu keseluruhan yang tidak dapat dipisah-pisahkan.                                                     
b.      Asta Brata memberikan kepastian bahwa seorang pemimpin yang menjalankannya akan mempunyai kekuasaan dan kewibawaan sehingga akan dapat menggerakkan bawahannya
      Menurut Asta Brata tersebut, kepemimpinan yang akan berhasil harus memenuhi syarat-syarat diantaranya.
a.      Indra-brata, yang member kesenangan dalam jasmani;
b.      Yama-brata, yang menunjuk pada keahlian dan kepastian hukum;
c.       Surya-brata, yang menggerakkan bawahan dengan mengajak mereka untuk bekerja persuasion;
d.       Caci-brata, yang member kesenangan rohaniah;
e.      Bayu-brata, yang menunjukkan keteguhan pendidikan dan rasa tidak segan-segan untuk turut merasakan kesukaran-kesukaran pengikut-pengikutnya;
f.        Dhana-brata, yang menunjukkan pada suatu sikap yang patut dihormati;
g.       Paca­-brata, yang menunjukkan kelebihan di dalam ilmu pengetahuan, kepandaian, dan keterampilan.
h.     Agni-brata, yaitu sifat memberikan semangat kepada anak buah.

3.      Kepemimpinan Menurut Ajaran Tradisional
       Pimpinan tradisional  adalah  pemimpin  yang  sangat  ketat  berpegang pada adat kebiasaan  yang di turun temurun kan .Kepemimpinan  tradisional pada umumnya bertumpu pada tata hukum yang mengatur  hidup  satu masyarakat.
      Karena berdasarkan tata hukum, maka kepemimpinan tradisional sebenarnya bersifat legal artinya bersumber pada hukum (Lex=  hukum, lagalis adalah kata sifat yang mengungkapkan kaitan sesuatu dengan hukum.  
      Dalam sistem kepemimpinan tradisional yang di tekan kan adalah unsur pertalian darah , sehingga penempatan individu dalam posisi dan jabatan  yang ada tidak tergantung  pada tepat tidaknya orang tersebut berdasarkan kemampuan nya untuk menduduki posisi itu , melainkan pada dekat tidaknya pertalian keluarga dengan pemimpin tradisional itu.
     Pimpinan trdisionan ini di akui kepemimpinannya bukan karena kemampuan-kemampuan khusus yang dimilikinya, melainkan hanya karena pengaruhnya dengan kelurga sudah melembaga dan menjiwai masyarakat. Hal ini terutama karena pimpinan itu mempunyai reputasi yang tinggi, sehingga keturunannya di percaya terus menerus memegang tampuk pimpinan.
   Di Jawa misalnya menggambarkan  seorang pemimpin melalui pepatah sebagai berikut.
 “Ing ngarsa sung tulada Ing madya mangun karsa Tut wuri handayani” Kemudian  almarhum  Ki  Hajar  Dewantara menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut.
    “Di muka memberi tauladan. Di tengah-tengah membangun semangat. Dari belakang memberikan pengaruh”
    Artinya seorang pemimpin yang di muka harus memiliki idealisme kuat, kedudukan, serta harus dapat menjelaskan cita-citanya kepada masyarakat  dengan cara-cara sejelas mungkin karena dia harus  mampu  menentukan  suatu tujuan bagi masyarakat yang dipimpinnya, serta merintis ke arah tujuan tersebut dengan menghilangkan segala hambatan, antara lain dengan menghapuskan lembaga-lembaga kemasyarakatan yang telah using.
   Seorang pemimpin di tengah mengikuti kehendak yang di bentuk masyarakat. Ia selalu dapat mengamati jalannya masyarakat, serta dapat merasakan suka dukanya. Dan dia di harapkan dapat merumuskan perasaan-perasaan serta keinginan-keinginan masyarakat  dan juga menimbulkan keinginan masyarakat untuk memperbaiki keadaan yang kurang menguntungkan.
    Seorang pemimpin yang di belakang diharapkan mempunyai kemampuan untuk mengikuti perkembangan masyarakat. Dia berkewajiban untuk menjaga agar perkembangan masyarakat tidak menyimpang dari norma-norma dan nilai-nilai yang pada suatu masa di hargai oleh masyarakat. Sendi-sendi kepemimpinannya adalah keutuhan dan harmoni. Kepemimpinan di belakang masih jelas tergambar dari istilah-istilah seperti “pamong raja”, “pamong desa” dan seterusnya yang menggambarkan bahwa fungsi pemimpin adalah untuk membimbing masyarakat.
    Perlu dicatat bahwa kepemimpinan dalam masyarakat-masyarakat tradisional pada umumnya dilaksanakan secara kolegal (bersama-sama), contohnya seorang penyumbang marga sebagai kepala adat di Daerah Lampung tidak akan brtindak sendiri sebelum di rundingkan dalam suatu rapat.




4.      Sandaran-sandaran Kepemimpinan dan Kepemimpinan yang Dianggap Efektif
      Kepemimpinan seseorang (pemimpin) harus mempunyai sandaran-sandaran kemasyarakatan atau social basis.Pertama-tama kepemimpinan erat hubungannya dengan susunan masyarakat. Masyarakat-masyarakat yang agraris di mana belum ada spesialisasi biasanya kepemimpinan meliputi seluruh bidang kehidupan masyarakat.
     Kekuatan kepemimpinan juga di tentukan oleh suatu lapangan kehidupan masyarakat yang pada suatu saat mendapat perhatian khusus dari masyarakat yang  di sebut cultural focus.
    Setiap kepemimpinan yang efektif harus memperhitungkan social basis apabila tidak menghendaki timbulnya ketegangan-ketegangan  atau setidak-tidaknya terhindar dari pemerintahan boneka belaka.
     Kepemimpinan di dalam masyarakat hukum adat yang tradisional dan homogen, perlu disesuaikan dengan susunan masyarakat yang masih tegas yang memperlihatkan ciri-ciri paguyuban.hubungan pribadi antara pemimpin dengan yang dipimpin sangat dihargai.Kepemimpinan pada masyarakat-masyarakat tradisional pada umumnya dilaksanakan secara koligial (bersama-sama).

5.      Tugas dan metode
Secara sosiologi tugas pokok seorang pemimpin adalah sebagai berikut
a.       Memberikan suatu karangan pokok yang jelas yang dapat dijadikan pegangan-pegangan bagi pengikutnya. Dengan adanya karangan pokok maka dapat disusun suatu skala prioritas mengenai keputusan-keputusan yang dapat diambil untuk menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi.
b.      Mengawasi, mengendalikan, serta menyalurkan perilaku warga masyarakat yang dipimpin.
c.       Bertindak sebagai wakil kelompok kepada dunia luar di kelompok yang dipimpin
  Suatu kepemimpinan dapat dilaksanakan atau diterapkan denagn berbagai cara. Cara tersebut biasanya dikelompokan kedalam beberapa kategori
a.       Cara-cara otoriter
Cara otoriter memiliki ciri pokok sebagai berikut.
1.      Pemimpin menentukan segala kegiatan kelompok secara sepihak.
2.      Pengikut sama sekali tidak diajak untuk ikut serta merumuskan tujuan kelomopok dan cara mencapai tujuan tersebut.
3.      Pemimpin terpisah dari kelompok dan seakan-akan tidak ikut dalam proses interaksi dalam kelompok tersebut.
b.      Cara-cara demokrasi
Cara demokrasi memiliki ciri umum sebagai berikut
1.      Secara musyawarah dan mufakat pemimpin mengajak warga atau anggota kelompok untuk ikut serta murumuskan tujuan-tujuan yang harus dicapai kelompok, serta cara-cara untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut.
2.      Pemimpin secara aktif memberi saran dan petunjuk-petunjuk.
3.      Ada kritik positif baik dari pemimpin maupun pengikut-pengikutnya.
4.      Pemimpin secara aktif ikut berpatisipasi dalam kegiatan-kegiatan kelompok.
c.       Cara-cara bebas
Cara bebas memiliki ciri pokok sebagai berikut
1.      Pemimpin menjalankan perannya secara pasif.
2.      Penentuan tujuan yang akan dicapai kelompok sepenuhnya diserahkan kepada kelompok.
3.      Pemimpin hanya menyediakan sarana yang diperlukan kelompok.
4.      Pemimpin berada di tengah-tengah kelompok, namun dia hanya berperan sebagai penonton.


















BAB III
KESIMPULAN


A.    Kesimpulan
    Kekuasaan, wewenang, dan kepemimpinan merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dan sangat penting dalam kehidupan kelompok social di masyarakat.
Kekuasaan adalah kemungkinan seorang pelaku mewujudkan keinginannya di dalam suatu hubungan social yang ada termasuk dengan kekuatan atau tanpa mengiraukan landasan yang menjadi pijakan kemungkinan itu.
     Wewenang merupaka hak jabatan yang sah untuk memerintahkan orang lain bertindak dan untuk memaksa pelaksanaannya. Dengan wewenang, seseorang dapat mempengaruhi aktifitas atau tingkah laku perorangan dan grup.
     Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi yang dilaksanakan dan diarahkan melalui proses komunikasi, ke arah pencapaian tujuan atau tujuan-tujuan tertentu.
Sumber kekuasaan terdiri dari harta benda, status, wewenang legal, charisma, dan pendidikan. Selain itu unsure kekuasaan juga berpengaruh yaitu meliputi: rasa takut, rasa cinta, kepercayaan, dan pemujaan. Lapisan kekuasaan yaitu tipe kata, tipe oligarkis, dan tipe demokratis.
    Bentuk wewenang terdiri dari:
1. Wewenang karena charisma, tradisional, dan rasional.
2.Wewenang resmi dan tidak resmi.
3.Wewenang pribadi dan territorial.
4.Wewenang terbatas dan menyeluruh.
     Teori kepemimpinan :
1. Teori pengaruh kekuasaan
2. Bersumber pada kedudukan
3. Kekuasaan politik.




DAFTAR PUSTAKA
·         Soekanto, 1990. Sosiologi Sebagai Pengantar. Rajawali pers : Jakarta.