Makalah Sosiologi
“Kekuasaan,
Wewenang dan Kepemimpinan”
Dosen pembingbing : Yanto Heryantos,Sos,.M.Si
Nama : dyfa nur apriani
Program
studi : Ilmu Administasi Negara (AN
1-C)
UNIVERSITAS SWADAYA GUNUNG JATI
2018
Jl. Terusan pemuda no.1
Cirebon 45132 telp (0231)488926
Kata pengantar
Segala puji saya panjatkan kehadirat Allah
SWT hingga saat ini saya diberikan nafas kehidupan dan anugrah akal,sehingga
kami dapat menyelesaikan pembuatan tugas ini yang bertemakan “kekuasaan,
wewenang dan kepemimpinan” tepat pada waktunya.
Makalah ini dibuat untuk memenuhi salah
satu tugas matakuliah sosiologi. Dalam makalah ini kita membahas tentang
pengantar kekuasaan, hakikat kekuasaan, unsur-unsur saluran kekuasaan dan
dimensinya, cara mempertahankan kekuasaan, wewenang, dan kepemimpinan tak lupa saya ucapkan
terimakasih atas perhatiannya terhadap makalah ini dan khususnya para pembaca.
Tidak ada manusia yang tak luput dari
kesalahan dan kekurangan, dengan segala kerendahan hati, saran dan kritik yang
sifatnya membangun sangat kami harapkan dari para pembaca guna meningkatkan
kualitas makalah ini pada waktu mendatang.
Cirebon, November 2018
Penyusun
Kelompok 7
DAFTAR
ISI
JUDUL .................................................................................................................... i
KATA PENGANTAR.............................................................................................. ii
DAFTAR ISI ............................................................................................................ iii
BAB I : PENDAHULUAN
A. Latar belakang
masalah......................................................................................... 1
B. Rumusan masalah ................................................................................................. 1
C. Tujuan penulisan ................................................................................................... 1
BAB II : PEMBAHASAN
A. Hakikat kekuasaan
dan sumbernya ...................................................................... 2
B. Unsur-unsur saluran kekuasaan
dan dimensiya .................................................... 5
1) Rasa
takut..................................................................................................... 6
2) Rasa
cinta ..................................................................................................... 6
3) Kepercayaan.................................................................................................. 6
4) Pemujaan
...................................................................................................... 6
C. Cara-cara
mempertahankan kekuasan................................................................... 7
D. Bentuk lapisan
kekuasaan..................................................................................... 7
E. Wewenang............................................................................................................. 8
1)
Wewenang kharismatis, tradisional, dan
rasional (legal)............................... 9
2)
Wewenang resmi dan tidak resmi.................................................................. 11
3)
Wewenang pribadi dan teritorial.................................................................... 11
4)
Wewenang terbatas dan menyeluruh ............................................................ 12
F. Kepemimpinan (leadership)
.................................................................................. 12
1)
Umum ........................................................................................................... 19
2)
Perkembangan kepemimpinan dan
sifat-sifat seorang pemimpin ................ 19
3)
Kepemimpinan menurut ajaran tradisional .................................................... 20
4)
Sandaran kepemimpinan dan kepemimpinan
yang dianggap efektif............. 22
5)
Tugas dan metode.......................................................................................... 22
BAB
III : PENUTUP
A. Kesimpulan .......................................................................................................... 24
DAFTAR PUSTAKA............................................................................................... 25
BAB I
PENDAHULAN
A.
Latar
Belakang
Kekuasan mempunyai peran yang
dapat menentukan nasib berjuta-juta manusia, kekuasaan sangat menarik perhatian
para ahli ilmu pengetahuan kemasyarakatan.sesuai dengan sifatnya sebagai ilmu
pengetahuan, sosiologi tidak memandang kekuasaan sebagai suatu yang baik atau buruk.
Sosiologi mengakui kekuasaan sebagai unsur yang sangat penting dalam kehidupan
suatu masyarakat. Penilaian baik atau buruknya senantiasa harus diukur dengan
kegunaannya untuk mencapai suatu tujuan yang sudah ditentukan atau disadari
oleh masyarakat.
Wewenang adalah kekuasaan yang ada pada
seseorang atau sekelompok orang, yang mempunyai dukungan atau mendapat
pengakuan dari masyarakat. Wewenang biasanya terbatas pada hal hal yang
diliputinya, waktu dan cara penggunaan kekuasaan itu. Adanya wewenang dapat
menjadi efektif apabila didukung dengan kekuasaan yang nyata.
Adanya kekuasaan dan wewenang
pada setiap masyarakat merupakan gejala yang wajar. Walaupun wujudnya kadang-kadang
tidak disukai oleh masyarakat itu sendiri karena sifatnya yang mungkin abnormal
menurut pandangan masyarakat yang bersangkutan.
B.
Rumusan
masalah
1.
Apa yang dimaksud hakikat kekuasaan ?
2.
Unsur-unsur apa saja yang ada dalam
saluran kekuasaan ?
3.
Bagaimana cara-cara mempertahankan
kekuasaan dan apa saja bentuknya ?
4.
Apa yang dimaksud dengan wewenang ?
5.
Apa yang dimaksud dengan kepemimpinan ?
C.
Tujuan
penulisan
1.
Mengetahui unsur yang ada dalam
kekuasaan
2.
Cara mempertahankan kekuasaan
3.
Lapisan lapisan dalam kekuasaan
4.
Mengetahui arti kekuasaan
5.
Mengetahui arti dari wewenang
6.
Mengetahui arti kepemimpinan
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Hakikat kekuasan dan Sumbernya
Definisi
kekuasaan, manurut para ahli sosiologi, yaitu :
a. Max
weber, kekuasaan adalah kemungkinan seorang pelaku mewujudkan keinginannya di
dalam suatu hubungan social yang ada termasuk dengan kekuatan atau tanpa
mengiraukan landasan yang menjadi pijakan kemungkinan itu.
b. Selo
soemardjan dan soelainan soemardi, menjelaskan bahwa adanya kekuasaan
tergantung dari yang berkuasa dan yang dikuasai.
c. Ralf
dahrendorf, kekuasaan adalah milik kelompok, milik individu dari pada milik
struktur social.
d. Soerjono
soekanto, kekuasaan diartikan sebagai suatu kemampuan untuk mempengaruhi pihak
lain menurut kehendak yang ada pada pemegang kekuasaan tersebut.
Sumber-sumber
Kekuasaan
Sumber-sumber kekuasaan yang dimiliki para
penguasa atau pemimpin, dalam masyarakat informal maupun formal adalah :
a.
Seseorang yang mempunyai harta benda
(kekayaan) yang lebih banyak, sehingga mempunyai keleluasan untuk bergerak dan
mempengaruhi pihak lain.
b.
Dengan
status tertentu, seseorang dapat memberikan pengaruhnya atau memaksa pihak lain
supaya melakukan sesuatu sesuai kehendaknya.
c.
Wewenang
legal atas dasar peraturan-peraturan formal (hukum) yang dimiliki seseorang,
dapat memberikan kekuasaan pada seseorang untuk mempengaruhi pihak lain sesuai
dengan hak dan kewajibannya sesuai dengan ketetapan dalam peraturan.
d.
Kekuasaan dalam pula tumbuh dari adanya
kepercayaan khalayak, seperti tradisi, kesucian, dan adat istiadat.
e.
Kekuasaan yang tumbuh dari khrisma atau
wibawa seseorang.
f.
Kekuasaan yang didasarkan pada
pedelegasian wewenang.
g.
Kekuasaan yang tumbuh dari pendidikan,
keahlian, serta kemampuan.
Kekuasaaan
terdapat disemua bidang kehidupan dan dijalankan. Kekuasan mencakup kemampuan
untuk memerintah ( agar yang diperintah patuh ) dan juga untuk memberi
keputusan-keputusan secara langsung maupun tidak langsung memengaruhi
tindakan-tindakan pihak-pihak lainya. Max Weber orang yang menyadarkan
masyarakat akan kemauan-kemauannya sendiri dengan sekaligus menerapkannya
terhadap tindakan-tindakan perlawanan dari orang-orang atau golonga-golongan
tertentu.
Kekuasaan mempunyai beraneka ragam bentuk
dan bermacam-macam sumbernya. Hak milik kebendaan dan kedudukan merupakan
sumber kekuasaan, birokrasi juga merupakan salah satu sumber kekuasaan,
disamping kemampuan khusus dalam bidang ilmu-ilmu pengetahuan yang tertentu
ataupun atas dasar peraturan-peraturan hukum tertentu. jadi kekuasaaan terdapat
dimana-mana, dalam hubungan sosial maupun di dalam organisasi sosial, tetapi
umumnya kekuasaaan yang tertinggi berada pada organisasi yang dinamakan
“Negara”
Secara
formal negara mempunyai hak untuk melaksanakan kekuasaaan tertinggi kalau perlu
dengan paksaaan, negaralah yang membagi kekuasaan yang lebih rendah derajatnya,
inilah yang dinamakan kedaulatan (sovereignity). Kedaulatan biasanya dijalankan
oleh segolongan kecil masyarakat yang menanamkan diri the realing class, ini merupakan gejala yang umum dalam setiap
masyarakat, didalamnya pasti ada yang menjadi pemimpin, meskipun menurut hukum
dia tidak merupakan pemegang kekuasaan tertinggi. Misal pada negara yang
berbentuk kerajaan, sering terlihat perdana mentri mempunyai kekuasaan yang
lebih besar dari raja dalam menjalankan kedaulatan negara.
Gejala lain yang tampak juga adalah
perasaan tidak puas ( mereka yang diperintah ) mempunyai pengaruh kebijaksanaan-kebijaksanaan
yang dijalankan oleh the ruling class. Golongan yang berkuasa tak mungkin
bertahan tanpa dukungan dari masyarakat oleh karena itu golongan tersebut
senantiasa berusaha untuk memamerkan
kekuasaannya terhadap masyarakat agar kekuasaannya dapat diterima masyarakat
sebagai kekuasaan yang legal dan baik untuk masyarakat yang bersangkutan.
Usaha-usaha golongana yang memegang kekuasaan seperti diterangkan mosca,
didalamnya masyarakat- masyarakatyang baru saja bebas dari penjajah dan
mendapatkan kemerdekaan politik mengalami kesulitan-kesulitan sebab pokok
kesulitan tersebut terletak pada
perbedaan alam pikiran antar golongan yang berkuasa ( yang secara relif maju ) dan
alam pikiran antar golongan yang dikuasai yang masih tradisional dan kurang
luas pengetahuaannya, oleh sebab itu golongan yang berkuasa harus berusaha
untuk menanamkan kekuasaannya dengan jalan menghubungkannya dengan kepercayaan
dan perasaan-perasaan yang kuat dalam masyarakat bersangkutan, yang pada
dasarnya terwujud dalam nilai dan norma.
Dengan demikian hakikat kekuasaan dapat
terwujud dalam hubungan yang sistematis dan asimetis masing-masing hubungan
terwujud dalam kehidupan sehari-hari.
·
Sifat hakikat kekuasaan
1.
Sistematis
a.
Hubungan persahabatan
b.
Hubungan sehari-hari
c.
Hubungan yang bersifat ambivelen
d.
Pertentangan antar mereka yang sejajar
kedudukannya
2.
Asistematis
a.
Popularitas
b.
Peniruan
c.
Mengikuti perintah
d.
Tunduk pada pemimpin formal atau
informal
e.
Tunduk pada seorang ahli
f.
Pertentangan antar mereka yang tidak
sejajar kedudukannya
g.
Hubungan sehari-hari
Kekuasaan bersumber pada bermacam-macam
faktor, apabila sumber kekuasaan dikaitkan dengan kegunaannya maka dapat
diperoleh :
·
Sumber kekuasaan
1.
Sumber
a.
Militer, polisi, dan kriminal
b.
Ekonomi
c.
Politik
d.
Hukum
e.
Terdisi
f.
Ideologi
g.
Deversionary power
2.
Kegunaan
a.
Pengendalian kekerasan
b.
Mengendalikan tanah, buruh, kekayaan
material dan produksi
c.
Pengambilan keputusan
d.
Mempertahankan, mengubah, melancarkan
interaksi
e.
Sistem kepercayaan nilai-nilai
f.
Pandangan hidup, integrasi
g.
Kepentingan rekreatif
B. Unsur-unsur Saluran Kekuasaan dan
Dimensinya
Kekuasaan
dapat dijumpai pada interaksi sosial antar manusia maupun kelompok yang
mempunyai beberapa unsur yaitu :
1. Rasa
takut
Perasaan takut pada seseorang menimbulkan
rasa kepatuhan terhadap segala kemauan dan tindakan orang yang ditakuti. rasa
takut merupakan perasaan negatif karena seseorang tunduk kepada orang lain
dalam keadaan terpaksa. Orang yang mempunyai rasa takut akan membuat segala
sesuatu yang sesuai dengan keinginan orang yang ditakutinya agar terhindar dari
kesukaran-kesukaran yang akan menimpa dirinya, seandainya dia tidak patuh.
Gejala ini dinamakan matched dependent
behavior yang tidak mempunyai tujuan konkret bagi yang melakukannya. Rasa takut
merupakan gejala unuversal dan biasanya dipergunakan sebaik-baiknya dalam
masyarakat yang mempunyai pemerintahan otoriter.
2. Rasa
cinta
Rasa
cinta menghasilkan perbuatan-perbuatan yang bersifat positif, rasa cinta
biasanya telah mendarah daging dalam diri seseorang ataupun kelompok orang,
rasa cinta yang efisien harus dimulai dari pemimpin maka kekuasaan akan dapat
berjalan baik dan teratur.
3. Kepercayaan
Kepercayaan akan timbul sebagai hubungan
langsung antar dua orang atau lebih yang bersifat asosiatif.
4. Pemujaan
Dalam
sistem pemujaan seseorang atau kelompok yang memegang kekuasaan mempunyai dasar
pemujaan dari orang lain akibatnya segala tindakan penguasa dibenarkan atau
setidak-tidaknya dianggap benar.
Apabila dilihat dari masyarakat, kekuasaan di
dalam pelaksanaannya dijalankan melalui saluran-saluran tertentu, saluran
tersebut banyak sekali tetapi kita hanya membatasi pada saluran sebagai berikut
:
a. Saluran
militer
Apabila saluran ini dipergunaka penguasa akan
lebih banyak mempergunakan paksaan serta kekuatan militer dalam melaksanakan
kekuasaannya. Tujuan utamanya untuk menimbulkan rasa takut dalam diri
masyarakat hingga mereka tunduk kepada kemauan penguasa. Untuk keperluan
tersebut dibentuk organisasi atau pasukan khusus yang bertindak sebagai dinas
rahasia hal ini banyak dijumpai pada negara-negara otoriter.
b. Saluran
ekonomi
Penguasa berusaha menguasai kehidupan
masyarakat dengan jalan menguasai perekonomian yang ada.
c. Saluran
politik
Pemerintah
berusaha untuk membuata peaturan yang dibuat oleh badan-badan yang sah yang
harus ditaati oleh masyarakat.
d. Saluran
tradisional
Dengan cara menyesuaikan tradisi pemegang
kekuasaan dapat berjalan dengan lebih lancar. Dengan cara demikian, akan ditemukan
suatu titik temu antara tradisi-tradisi tersebut sehinga dapat mencegah atau
mengatasi reaksi negatif.
e. Saluran
ideoloi
Penguasa-
penguasa dalam masyarakat biasanya mengemukakan serangkaian ajaran-ajaran atau
doktrin-doktrin yang bertujuan untuk menerangkan dan sekaligus memberi dasar
pembenaran bagi pelaksanaan kekuasaannya. Dilakukan supaya kekuasaan dapat
menjelma menjadi wewenang.
f. Saluran
lainnya (media massa)
Media massa mendapat tempat yang penting
sebagai saluran pelaksanaan kekuasaan yang dipegang oleh suatu penguasa.
C. Cara-cara mempertahankan kekuasaan
Demi menjaga kestabilan masyarakat untuk
mempertahankan kekuasaan dilakukan dengan Cara sebagai berikut:
1. Menghilangkan
segenap peraturan-peraturan lama, terutama dalam bidang politik yang merugikan
kedudukan penguasa dimana peraturan-peraturan tersebut akan digantikan dengan
peraturan baru, keadaan tersebut biasanya terjadi pada waktu ada pergantian
kekuasaan dari seorang penguasa kepada penguasa lain.
2. Mengadaka
sistem-sistem kepercayaan yang akan dapat memperkokoh kedudukan penguasa atau
golongannya yang meliputi agama indeologi dll.
3. Pelaksanaan
administrasi dan birokrasi yang baik.
4. Mengadakan
konsolidasi horizontal dan vertikal.
Apabila dalam suatu bidang kehidupan terdapat
orang yang kuat dan berkuasa meka timbul suatu pusat kekuasaan (power centre).
Sudah tentu timbul pusat-pusat kekuasaan lain yang mungkin merupakan oposisi.
Konkuresi terhadap kekuasaan akan selalu ada dapat dilakukan secara bebas
ataupun terbatas tergantung pada struktur masyarakat. Dengan demikian, penguasa
mempunyai beberapa cara untuk memperkuat kedudukannya yaitu sebagai berikut:
1. Dengan
menguasai bidang-bidang kehidupan tertentu yang dilakukan dengan cara damai
atau persuasif.
2. Dengan
jalan menguasai bidang-bidang kehidupan masyarakat dengan paksa atau kekerasan.
D. Beberapa bentuk lapisan kekuasaan
Setiap
tahapan perkembangan dari suatu masyarakat tertentu mempunyai ciri-ciri sistem
lapisan kekuasaan yang khusus. Perlu pula ditambahkan behwa kekuasaan bukanlah
semata-mata berarti bahwa banyak orang tunduk dibawah penguasa.
Menurut
maclver ada tiga pola umum lapisan kekuasaan atau piramida kekuasaan yaitu:
a. Tipe
pertama (tipe kata) adalah sistem lapisan kekuasaan dengan garis pemisah yang
tegas dan kaku, biasanya dijumpai pada masyarakat yang berkasta dimana hampir
tak terjadi gerak sosial vertikal.
Kedudukan tertinggi adalah maha raja,
penguasa dan sebaginya dengan lingkungan yang didukung oleh kaum bangsawan,
tentara, dan para pendeta. Lapisan kedua terdiri dari petani, buruh, yang
kemudian diikuti dengan lapisan terendah dalam masyarakat yaitu budak.
b. Tipe
yang kedua (tipe olagarkis) masih mempunyai garis pemisah yang tegas tapi dasar
perbedaan kelas sosialnya ditentukan oleh kebudayaan masyarakat, terutama pada
kesempatan yang diberikan oleh para warga untuk memperoleh kekuasaan tertentu.
Bedanya dengan tipe yang pertama adalah walaupun kedudukan para warga pada tipe
kedua masih didasarkan kelahiran namun individu masih diberi kesempatan untuk
naik lapisan.
Kelas menengah mempunyai warga yang
paling banyak seperti kaum industri, perdagangan, dan keuangan menengah, kelas
mengah memegang peran penting untuk
membantu lapisan bawah naik tingkat dan kelas menengan bisa jadi penguasa.
c. Tipe
yang ketiga (tipe demokratis)kelahiran tidak menentukan seseorang, yang
terpenting adalah kemampuan dan juga faktor keberuntungan, tipe ini dibuktikan
dari anggota-anggota partai politik yang dalam suatu masyarakat demokratis
dapat mencapai kedudukan-kedudukan tertentu melalui partai.
E. Wewenang
Definisi
wewenang, menurut para ahli sosiologi, yaitu:
a. George
R.Terry, menjelaskan bahwa wewenang merupaka hak jabatan yang sah untuk
memerintahkan orang lain bertindak dan untuk memaksa pelaksanaannya. Dengan
wewenang, seseorang dapat mempengaruhi aktifitas atau tingkah laku perorangan
dan grup.
b. Mac Iver R.M, wewenang merupakan suatu hak
yang didasarkan pada suatu pengaturan social, yang berfungsi untuk menetapkan
kebijakan, keputusan, dan permasalahan penting dalam masyarakat.
c. Soerjono
Soekanto, bila orang-orang membicarakan tentang wewenang, maka yang dimaksud
adalah hak yang dimiliki seseorang atau sekelompok orang.
d. Max weber, wewenang adalah sebagai kekuasaan
yang sah.
Dipandang
dari sudut masyarakat, kekuasaan tanpa wewenang merupakan kekuasaan yang tidak
sah. Kekuasaan harus mendapatkan pengakuan dan pengesahan dari masyarakat agar
menjadi wewenang. Wewenang hanya akan mengalami perubahan dalam bentuk.
Perkembangan suatu wewenang terletak pada arah serta tujuan untuk sebanyak
mungkin memenuhi bentuk yang diidamkan oleh masyarakat, ada beberapa bentuk
wewenang yaitu :
1. Wewenang
kharismatis, tradisional, dan rasional (legal)
Perbedaan
antara tiga wewenang itu dikemukakan oleh Max Weber. Perbedaan tersebut
didasarkan pada hubungan antar tindakan dengan dasar hukum yang berlaku.
Wewenang kharismatis merupakan wewenang
yang didasarkan pada kharisma, yaitu suatu kemampuan khusus yang ada pada diri
seseorang yang sudah melekat dalam diri seseoran karena anugrah Tuhan Yang Maha
Kuasa. Wewenang kharismatis akan dapat tetap bertahan selama dapat dibuktikan
keampuhannya bagi seluruh masyarakat. Contohnya nabi, para rosul, penguasa
terkemuka dalam sejarah dan lain-lain. Dasar dari wewenang kharismatis bukanlah
terletak pada suatu peraturan (hukum) tetapi bersumber pada diri pribadi
individu yang bersangkutan. Khasirmatis
semakin meningkat sesuai dengan kesanggupan individu yang bersangkutan untuk
membuktikan manfaatnya bagi masyarakat, wewenang khasismatis dapat berkurang
bila merugikan masyarakat sehingga kepercayaan masyarakat terhadapnya menjadi
berkurang.
Wewenang tradisional dapat dipunyai oleh
seseorang maupun sekelompok orang dengan kata lain wewenang tersebut dimiliki
oleh orang yang menjadi kelompok yang sudah mempunyai kemampuan khusus seperti
pada wewenang kharismatis.
Ciri
utama wewenang tradisional adalah :
1. Adanya
ketentuan tradisional yang mengikat penguasa yang mempunyai wewenang serta
orang lainnya dalam masyarakat.
2. Adanya
wewenang yang lebih tinggi ketimbang kedudukan seseorang yang hadir secara
pribadi.
3. Selama
tak ada pertentangan dengan ketentuan tradisional orang-orang bertindak secara
bebas.
Wewenang
tradisional dapat juga berkurang bahkan hilang disebabkan karena pemegang
kekuasaan tidak dapat mengikuti perkembangan masyarakat. Masyarakat yang
menyadarkan diri pada tradisi biasanya lambat sekali berkembang walaupun
begitu, wewenang pada tradisi harus menyesuaikan diri dengan
perubahan-perubahan kemasyarakatan.
Wewenang rasional atau legal adalah
wewenang yang didasarkan pada sistem hukum yang berlaku dalam masyarakat.
Sistem hukum disini dipahamkan sebagai kaidah yang telah diakui serta ditaati
masyarakat dan bahkan yang telah diperkuat oleh negara. Pada wewenang yang
didasarkan pada sistem hukum harus dilihat juga pada sistem hukumnya bersandar
pada tradisi, agam, atau faktor lain kemudian harus ditelaah pula hubungannya
dengan sistem kekuasaan serta diuji pula apakah sistem hukum tadi cocok atau
tidak dengan sistem kebudayaan masyarakat supaya kehidupan dapat berjalan
dengan tenang dan tenteram.
Apabila tiga wewenang tersebut ditelaah lebih
mendalam akan terlihat bahwa tiga-tiganya dapat dijumpai dalam masyarakat,
walaupun hanya salah satu yang menonjol saja. Di dalam masyarakat yang
mempunyai perubaha cepat, mendalam, dan meluas wewenang kharismatis mendapat
kesempatan untuk tampil dimuka. Dalam keadaan demikian tradisi tidak mendapat
penghargaan selayaknya dari masyarakat, lagi pula kaidah-kaidah dan nilai-nilai
sosial tidak lagi dapat digunakan sebagi pedoman tegas bagi para warga. Oleh
karena itu golongan-golongan masyarakat yang biasa dipimpin dengan sukarela
mengikuti orang yang cakap. Barangsiapa pernah mengalami revolusi fisik
indomesia pada 1945 akan mengatahui betapa besar daya tarik para pemimpin
masyarakat yang memiliki kharisma di dalam mengarahkan masyarakat pada waktu
itu.
Max Weber mengemukakan pendapat bahwa
kecenderungan dari wewenang kharismatis untuk dijadikan kekuasaan tetap dengan
mengabdikan kepentingan serta cita-cita para pengikut kharismatis tadi kedalam
kehidupan bersama kelompok dan kepentingan untuk mempererat hubungan satu
denagn yang lainnya. Masalah akan timbul bila yang memiliki kharisma sudah tak
ada lagi. Beberapa cara yang dapat ditempuh untuk mengatasi masalah tersebut
antara lain:
a. Mencari
seseorang untuk memenuhi ukuran-ukuran atau kriteria wewenang karismatis
sebagaimana ditentukan oleh masyarakat.
b. Dengan mengadakan penyaringan atau seleksi.
c. Seseorang
yang mempunyai wewenag kharismatis, menunjukan penggantinya serta mengakui
kekuasaannya dimana masyarakat luas juga mengakuinya.
d. Penunjukan
oleh pembantu-pembantu penguasa terdahulu yang dipercayai oleh masyarakat.
e. Menciptakan
suatu sistem kepercayaan bahwa kharisma dapat diwariskan kepada keturunan atau
seseorang yang masih ada hubungan keluarga dengan orang yang mempunya kharisma
tersebut.
f. Menciptakan
sistem kepercayaan bahwa dengan upacar-upacar tradisional tertentu kharisma
dapat dialihkan pada orang lain.
Proses
perubahan wewenang kharismatis menjadi kekuasaan dan wewenang yang tepat tidak
mustahil menimbulkan pertikaian-pertikaian. Bagi penganut kharismatis,
kadang-kadang tidak mudah untuk melupakan bahwa wewenang tersebut pernah
melekar pada diri pribadinaya.
2. Wewenang
resmi dan tidak resmi
Dalam setiap masyarakat akan dapat dijumpai
aneka bentuk kelompok. Dalam kehidupan kelompok tadi sering kali timbul masalah
tentang derajat resmi suatu wewenang yang berlaku di dalamnya, seringkali
wewenang yang berlaku dalam kelompok-kelompok kecil tersebut sebagai wewenang
yang tidak resmi karena bersifat spontan, situasional, dan didasarkan pada
faktor saling mengenal. Wewenang demikian tidak diterapkan secara sistematis
keadaan seperti ini dapat dijumpai misalnya, pada ciri seorang ayah yang
fungsinya sebagai kepala rumah tangga ataupun seorang guru yang sedang mengajar
di muka kelas. Wewenang tidak resmi biasanya timbul dalam hubungan antar
pribadi yang sifatnya situasional dan sangat ditentukan oleh kepribadian para
pihak.
Wewenang resmi sifatnya sistematis,
diperhitungkan, dan rasional. Biasanya wewenang tersebut dapat dijumpai pada
kelompok-kelompok besar yang memerlukan aturan-aturan tata tertib yang tegas
dan bersifat tetap. Di dalam kelompok tadi, karena banyaknya anggota, biasanya
hak serta kewajiban para anggota, kedudukan serta peran siapa-siapa yang
menetapkan kebijaksanaan dan siap pelaksananya, dan seterusnya ditentukan
dengan tegas. Walaupun demikian, dalam kelompok besar dengan wewenang resmi
tersebut, mungkin saja ada wewenag yang tidak resmi. Tidak semua dijalankan
atas peraturan-peraturan resmi yang sengaja dibentuk.
3. Wewenang
pribadi dan teritorial
Pembedaan wewenang pribadi dan tertorial
sebenarnya timbul dari sifat dan dasar kelompok- kelompok tertentu, kelompok
tersebut mungkun timbul karena adanya ikatan darah, atau mungkin juga karena
ikatan faktor tempat tinggal, atau karena dua gabungan faktor tersebut. Di
indonesia dikenal kelompok- kelompok atas dasar ikatan darah contohnya seperti,
marga, belah, dan sebagainya. Sebaliknya dikenal juga dengan nama desa yang
lebih didasarkan pada teritorial.
Wewenang pribadi sangat terganting pada
solidaritas antar anggota-anggota kelompok dan unsur kebersamaan sangat
memegang peranan. Pada individu dianggap lebih banyak memiliki kewajiban
ketimbang hak. Struktur wewenang bersifat konsentris, yaitu dari satu titik
pusat lalu meluas melalui lingkaran-lingkaran wewenag tersebut, setiap
lingkaran wewenang memiliki kekuasaan penuh di wilayahnya masing-masing.
Pada
wewenag teritorial wilayah tempat tingggal memegang peran yang sangat penting.
Pada kelompok-kelompok teritorial unsur kebersamaan cenderung berkurang karena
desakan faktor-faktor individualisme. Pada wewenag teritorial ada kecenderungan
untuk mengadakan sentralisasi wewenag yang memungkinkan hubungan langsung
dengan para warga.
4. Wewenang
terbatas dan menyeluruh
Apabila bicara tentang wewenag terbatas
maksudnya adalah wewenang tidak mencakup sektor atau semua bidang kehidupan.
Misalnya seorang jaksa di indonesia, mempunyai wewenang untuk atas nama negar
dan mewakili nama masyarakat menuntut seorang warga yang melakukan pidana,
namun seorang jaksa tidak berwenang untuk mengadilinya.
Wewenang
menyeluruh berarti usatu wewenag yang tidak dibatasi oleh bidang-bidang
kehidupan tertentu, contohnya adalah setiap warga mempunyai wewenag yang
menyeluruh atau mutlak untuk mempertahankan kedaulatan wilayahnya. Kedua bentuk
wewenang tadi dapat berproses secatra berdampinagan, dimana pada situasi-situasi
tertentu.
F. Kepemimpinan (leadership)
Definisi kepemimpinan, diantaranya :
a.
Kepemimpinan adalah perilaku seseorang
individu ketika ia mengarahkan aktivitas sebuah kelompok menuju suatu tujuan
bersama (hemphill dan Coons, 1957:7)
b.
Kepemimpinan adalah pengawalan dan
pemeliharaan suatu struktur dalam harapan dan interaksi (Stogdill, 1974:411).
c.
Kepemimpinan adalah pengaruh antar
pribadi yang dilaksanakan dan diarahkan melalui proses komunikasi, ke arah
pencapaian tujuan atau tujuan-tujuan tertentu (Tannenbaum, Waschler, dan Massarik,
1961:24).
Seorang
pemimpin harus mengerti tentang teori kepemimpinan agar nantinya mempunyai
referensi dalam menjalankan sebuah organisasi. Beberapa teori tentang
kepemimpinan antara lain :
1.
Teori Kepemimpinan
Sifat ( Trait Theory )
Analisis ilmiah tentang kepemimpinan
berangkat dari pemusatan perhatian pemimpin itu sendiri. Teori sifat berkembang
pertama kali di Yunani Kuno dan Romawi yang beranggapan bahwa pemimpin itu
dilahirkan, bukan diciptakan yang kemudian teori ini dikenal dengan ”The
Greatma Theory”. Dalam perkembanganya, teori ini mendapat pengaruh dari aliran
perilaku pemikir psikologi yang berpandangan bahwa sifat – sifat kepemimpinan
tidak seluruhnya dilahirkan akan tetapi juga dapat dicapai melalui pendidikan
dan pengalaman. Sifat – sifat itu antara lain : sifat fisik, mental, dan
kepribadian.
Keith Devis
merumuskan 4 sifat umum yang berpengaruh terhadap keberhasilan kepemimpinan
organisasi, antara lain:
a.
Kecerdasan
Berdasarkan hasil penelitian, pemimpin yang mempunyai kecerdasan yang
tinggi di atas kecerdasan rata – rata dari pengikutnya akan mempunyai
kesempatan berhasil yang lebih tinggi pula. Karena pemimpin pada umumnya
memiliki tingkat kecerdasan yang lebih tinggi dibandingkan dengan pengikutnya.
b.
Kedewasaan dan
Keluasan Hubungan Sosial
Umumnya di
dalam melakukan interaksi sosial dengan lingkungan internal maupun eksternal,
seorang pemimpin yang berhasil mempunyai emosi yang matang dan stabil. Hal ini membuat
pemimpin tidak mudah panik dan goyah dalam mempertahankan pendirian yang
diyakini kebenarannya.
c.
Motivasi Diri
dan Dorongan Berprestasi
Seorang
pemimpin yang berhasil umumnya memiliki motivasi diri yang tinggi serta
dorongan untuk berprestasi. Dorongan yang
kuat ini kemudian tercermin pada kinerja yang optimal, efektif dan efisien.
d.
Sikap Hubungan
Kemanusiaan
Adanya pengakuan terhadap harga diri dan kehormatan sehingga para pengikutnya
mampu berpihak kepadanya.
2.
Teori Kepemimpinan
Perilaku dan Situasi
Berdasarkan
penelitian, perilaku seorang pemimpin yang mendasarkan teori ini memiliki
kecendrungan kearah 2 hal.
1)
Pertama yang
disebut dengan Konsiderasi yaitu kecendrungan seorang pemimpin yang
menggambarkan hubungan akrab dengan bawahan. Contoh gejala yang ada dalam hal
ini seperti : membela bawahan, memberi masukan kepada bawahan dan bersedia
berkonsultasi dengan bawahan.
2)
Kedua disebut
Struktur Inisiasi yaitu Kecendrungan seorang pemimpin yang memberikan batasan kepada
bawahan. Contoh yang dapat dilihat , bawahan mendapat instruksi dalam
pelaksanaan tugas, kapan, bagaimana pekerjaan dilakukan, dan hasil yang akan
dicapai.
Jadi,
berdasarkan teori ini, seorang pemimpin yang baik adalah bagaimana seorang
pemimpin yang memiliki perhatian yang tinggi kepada bawahan dan terhadap hasil
yang tinggi pula.
3.
Teori
Kewibawaan Pemimpin
Kewibawaan merupakan faktor penting dalam kehidupan kepemimpinan, sebab
dengan faktor itu seorang pemimpin akan dapat mempengaruhi perilaku orang lain
baik secara perorangan maupun kelompok sehingga orang tersebut bersedia untuk
melakukan apa yang dikehendaki oleh pemimpin.
4.
Teori
Kepemimpinan Situasi
Seorang
pemimpin harus merupakan seorang pendiagnosa yang baik dan harus bersifat
fleksibel, sesuai dengan perkembangan dan tingkat kedewasaan bawahan.
5.
Teori Kelompok
Agar tujuan
kelompok (organisasi) dapat tercapai, harus ada pertukaran yang positif antara
pemimpin dengan pengikutnya.
Dari adanya
berbagai teori kepemimpinan di atas, dapat diketahui bahwa teori kepemimpinan
tertentu akan sangat mempengaruhi gaya kepemimpinan (Leadership Style), yakni
pemimpin yang menjalankan fungsi kepemimpinannya dengan segenap filsafat,
keterampilan dan sikapnya. Gaya kepemimpinan adalah cara seorang pemimpan
bersikap, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan orang lain dalam mempengaruhi
orang untuk melakukan sesuatu.Gaya tersebut bisa berbeda – beda atas
dasar motivasi , kuasa ataupun orientasi terhadap tugas atau orang tertentu.
Diantara beberapa gaya kepemimpinan, terdapat pemimpin yang positif dan
negatif, dimana perbedaan itu didasarkan pada cara dan upaya mereka memotivasi
karyawan. Apabila pendekatan dalam pemberian motivasi ditekankan pada imbalan
atau reward (baik ekonomis maupun nonekonomis) berartitelah digunakan gaya
kepemimpinan yang positif. Sebaliknya jika pendekatannya menekankan pada
hukuman atau punishment, berarti dia menerapkan gaya kepemimpinan negatif.
Pendekatan kedua ini dapat menghasilakan prestasi yang diterima dalam banyak
situasi, tetapi menimbulkan kerugian manusiawi.
Selain gaya kepemimpinan di atas
masih terdapat gaya lainnya.
1. Otokratis
Kepemimpinan seperti ini menggunakan metode pendekatan
kekuasaan dalam mencapai keputusan dan pengembangan strukturnya. Kekuasaan
sangat dominan digunakan. Memusatkan kekuasaan dan pengambilan keputusan bagi
dirinya sendiri, dan menata situasi kerja yang rumit bagi pegawai sehingga mau
melakukan apa saja yang diperintahkan. Kepemimpinan ini pada umumnya negatif,
yang berdasarkan atas ancaman dan hukuman. Meskipun demikian, ada juga beberapa
manfaatnya antaranya memungkinkan pengambilan keputusan dengan cepat serta
memungkinkan pendayagunaan pegawai yang kurang kompeten.
2. Partisipasif
Lebih banyak mendesentrelisasikan wewenang yang
dimilikinya sehingga keputusan yang diambil tidak bersifat sepihak.
3. Demokrasi
Ditandai adanya suatu struktur yang pengembangannya
menggunakan pendekatan pengambilan keputusan yang kooperatif. Di bawah
kepemimpinan pemimpin yang demokrasis cenderung bermoral tinggi dapat
bekerjasama, mengutamakan mutu kerja dan dapat mengarahkan diri sendiri.
4. Kendali Bebas
Pemimpin memberikan kekuasaan penuh terhadap bawahan,
struktur organisasi bersifat longgar dan pemimpin bersifat pasif. Yaitu
Pemimpin menghindari kuasa dan tanggung – jawab, kemudian menggantungkannya
kepada kelompok baik dalam menetapkan tujuan dan menanggulangi masalahnya
sendiri.
Dilihat dari orientasi si
pemimpin, terdapat dua gaya kepemimpinan yang diterapkan, yaitu gaya konsideral
dan struktur, atau dikenal juga sebagai orientasi pegawai dan orientasi tugas.
Beberapa hasil penelitian para ahli menunjukkan bahwa prestasi dan kepuasan
kerja pegawai dapat ditingkatkan apabila konsiderasi merupakan gaya
kepemimpinan yang dominan. Sebaliknya, para pemimpin yang berorientasi tugas
yang terstruktur, percaya bahwa mereka memperoleh hasil dengan tetap membuat
orang – orang sibuk dan mendesak mereka untuk berproduksi.
Pemimpin yang positif,
partisipatif dan berorientasi konsiderasi,tidak selamanya merupakan pemimpinyan
terbaik.fiedler telah mengembakan suatumodel pengecualian dari ketiga gaya
kepemimpinan diatas,yakni model kepemimpinankontigennis.model ini nyatakan
bahwa gaya kepemimpinan yang paling sesuai bergantung pada situasi dimana pemimpin
bekerja.dengan teorinya ini fiedler ingin menunjukkan bahwa keefektifan
ditunjukkan oleh interaksi antara orientasi pegawai dengan 3 variabel yang
berkaitan dengan pengikut, tugas dan organisasi. Ketiga variabel itu adalah
hubungan antara pemimpin dengan anngota ( Leader – member rolations), struktur
tugas (task strukture), dan kuasa posisi pemimpin (Leader position power).
Variabel pertama ditentukan oleh pengakuan atau penerimaan (akseptabilitas)
pemimpin oleh pengikut, variabel kedua mencerminkan kadar diperlukannya cara
spesifik untuk melakukan pekerjaan, variabel ketiga menggambarkan kuasa
organisasi yang melekat pada posisi pemimpin.
Model kontingensi Fieldler ini serupa dengan gaya kepemimpinan situasional dari Hersey dan Blanchard. Konsepsi kepemimpinan situasional ini melengkapi pemimpin dengan pemahaman dari hubungan antara gaya kepemimpinan yang efektif dengan tingkat kematangan (muturity) pengikutnya.perilaku pengikut atau bawahan ini amat penting untuk mengetahui kepemimpinan situasional, karena bukan saja pengikut sebagai individu bisa menerima atau menolak pemimpinnya, akan tetapi sebagai kelompok , pengikut dapat menemukan kekuatan pribadi apapun yang dimiliki pemimpin.
Model kontingensi Fieldler ini serupa dengan gaya kepemimpinan situasional dari Hersey dan Blanchard. Konsepsi kepemimpinan situasional ini melengkapi pemimpin dengan pemahaman dari hubungan antara gaya kepemimpinan yang efektif dengan tingkat kematangan (muturity) pengikutnya.perilaku pengikut atau bawahan ini amat penting untuk mengetahui kepemimpinan situasional, karena bukan saja pengikut sebagai individu bisa menerima atau menolak pemimpinnya, akan tetapi sebagai kelompok , pengikut dapat menemukan kekuatan pribadi apapun yang dimiliki pemimpin.
Menurut Hersey dan Blanchard
(dalam Ludlow dan Panton,1996 : 18 dst), masing – masing gaya kepemimpinan ini
hanya memadai dalm situasi yang tepat meskipun disadari bahwa setiap orang
memiliki gaya yang disukainya sendiri dan sering merasa sulit untuk mengubahnya
meskipun perlu.
Banyak studi yang sudah dilakukan untuk melihat gaya kepemimpinan seseorang. Salah satunya yang terkenal adalah yang dikemukakan oleh Blanchard, yang mengemukakan 4 gaya dari sebuah kepemimpinan. Gaya kepemimpinan ini dipengaruhi oleh bagaimana cara seorang pemimpin memberikan perintah, dan sisi lain adalah cara mereka membantu bawahannya. Keempat gaya tersebut adalah
Banyak studi yang sudah dilakukan untuk melihat gaya kepemimpinan seseorang. Salah satunya yang terkenal adalah yang dikemukakan oleh Blanchard, yang mengemukakan 4 gaya dari sebuah kepemimpinan. Gaya kepemimpinan ini dipengaruhi oleh bagaimana cara seorang pemimpin memberikan perintah, dan sisi lain adalah cara mereka membantu bawahannya. Keempat gaya tersebut adalah
1. Directing
Gaya tepat apabila kita dihadapkan dengan tugas yang
rumit dan staf kita belum memiliki pengalaman dan motivasi untuk mengerjakan
tugas tersebut. Atau apabila anda berada di bawah tekanan waktu penyelesaian.
Kita menjelaskan apa yang perlu dan apa yang harus dikerjakan. Dalam situasi
demikian, biasanya terjadi over-communicating (penjelasan berlebihan yang dapat
menimbulkan kebingungan dan pembuangan waktu). Dalam proses pengambilan
keputusan, pemimpin memberikan aturan –aturan dan proses yang detil kepada
bawahan. Pelaksanaan di lapangan harus menyesuaikan dengan detil yang sudah
dikerjakan.
2. Coaching
Pemimpin tidak hanya memberikan detil proses dan
aturan kepada bawahan tapi juga menjelaskan mengapa sebuah keputusan itu
diambil, mendukung proses perkembangannya, dan juga menerima barbagai masukan
dari bawahan. Gaya yang tepat apabila staf kita telah lebih termotivasi dan
berpengalaman dalam menghadapi suatu tugas. Disini kita perlu memberikan
kesempatan kepada mereka untuk mengerti tentang tugasnya, dengan meluangkan
waktu membangun hubungan dan komunikasi yang baik dengan mereka.
3. Supporting
Sebuah gaya dimana pemimpin memfasiliasi dan membantu
upaya bawahannya dalam melakukan tugas. Dalam hal ini, pemimpin tidak
memberikan arahan secara detail, tetapi tanggung jawab dan proses pengambilan
keputusan dibagi bersama dengan bawahan. Gaya ini akan berhasil apabila
karyawan telah mengenal teknik – teknik yang dituntut dan telah mengembangkan
hubungan yang lebih dekat dengan anda. Dalam hal ini kita perlumeluangkan waktu
untuk berbincang – bincang, untuk lebih melibatkan mereka dalam penganbilan
keputusan kerja, serta mendengarkan saran – saran mereka mengenai peningkatan
kinerja.
4. Delegating
Sebuah gaya dimana seorang pemimpin mendelegasikan
seluruh wewenang dan tanggung jawabnya kepada bawahan. Gaya Delegating akan
berjalan baik apabila staf kita sepenuhnya telah paham dan efisien dalm
pekerjaan, sehingga kita dapat melepas mereka menjalankan tugas atau pekerjaan
itu atas kemampuan dan inisiatifnya sendiri.
Keempat gaya ini tentu saja
mempunyai kelemahan dan kelebihan, serta sangat tergantung dari lingkungan di
mana seorang pemimpin berada, dan juga kesiapan dari bawahannya. Maka kemudian
timbul apa yang disebut sebagai ”situational leadership”. Situational
leadership mengindikasikan bagaimana seorang pemimpin harus menyesuaikan
keadaan dari orang – orang yang dipimpin.
Ditengah – tengah dinamika organisasi (yang antara lain diindikasikan oleh adanya perilaku staf / individu yang berbeda – beda), maka untuk mencapai efektivitas organisasi, penerapan keempat gaya kepemimpinan diatas perlu disesuaikan dengan tuntutan keadaan. Inilah yang dimaksud dengan situasional lesdership,sebagaimana telah disinggung di atas. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa untuk dapat mengembangkan gaya kepemimpinan situasional ini, seseorang perlu memiliki tiga kemampuan khusus yakni :
Ditengah – tengah dinamika organisasi (yang antara lain diindikasikan oleh adanya perilaku staf / individu yang berbeda – beda), maka untuk mencapai efektivitas organisasi, penerapan keempat gaya kepemimpinan diatas perlu disesuaikan dengan tuntutan keadaan. Inilah yang dimaksud dengan situasional lesdership,sebagaimana telah disinggung di atas. Yang perlu diperhatikan adalah bahwa untuk dapat mengembangkan gaya kepemimpinan situasional ini, seseorang perlu memiliki tiga kemampuan khusus yakni :
·
Kemampuan analitis (analytical skills) yakni kemampuan
untuk menilai tingkat pengalaman dan motivasi bawahan dalam melaksanakan tugas.
·
Kemampuan untuk fleksibel
(flexibility atau adaptability skills) yaitu kemampuan untuk menerapkan gaya
kepemimpinan yang paling tepat berdasarkan analisa terhadap situasi.
·
Kemampuan berkomunikasi
(communication skills) yakni kemampuan untuk menjelaskan kepada bawahan tentang
perubahan gaya kepemimpinan yang kita terapkan.
1.
Umum
Kepemimpinan adalah kemampuan seseorang
untuk memengaruhi orang lain sehingga orang lain tersebut bertingkah laku
sebagaimana yang dikehendaki oaleh pemimpin. Kepemimpinan merupakan suatu
kompleks dari hak-hak dan kewajiban yang dapat dimiliki oleh seseorang atau
suatu badan. Sebagai suatu proses sosial kepemimpinan meliputi segala tindakan
yang dilakukan seseorang atau suatu badan yang menyebankan gerak dari
masyarakat.
Kepemimpinan ada yang bersifat resmi yaitu
kepemimpinan yang tersimpul dalam suatu jabatan adapula kepemimpinan karena
pengakuan masyarakat akan kemampuan seseorang untuk menjalankan kepemimpinan.
Suatu perbedaan yang mencolok antara kepemimpinan resmi dan tidak resmi adalah
kepemimpinan yang resmi di dalam pelaksanaannya selalu berada diatas
landasan-landasan atau peraturan-peraturan resmi dengan demikian daya cakup
sanagat terbatas. Kepemimpinan tidak resmi mempunyai ruang lingkup tanpa
batasan-batasan resmi, karena kepemimpinan demikian didasarkan atas pengakuan
dan kepercayan masyarakat. Ukuran benar tidaknya kepemimpinan tidak resmi
terletak pada tujuan dan hasil pelaksanaan kepemimpinan tersebut, menguntungkan
atau merugikan masyarakat. Walaupun kepemimpinan tidak resmi boleh menyimpang
dari peraturan-peraturan yang ada, pemimpin tersebut dapat melakukan
kebijaksanaan yang dapat memancarkan kemampuan mereka sebagi pemimpin.
Misalnya, kebijaksanaan tersebut dapat diwujudkan di dalam memilih waktu untuk
melaksanakan peraturan-peraturan atau memilih orang-orang yang langsung berhubungan
dengan masyarakat untuk melaksanakan peraturan dan seterusnya.
2.
Perkembangan
kepemimpinan dan sifat-sifat seorang pemimpin
Sejak
mula terbentuknya suatu kelompok sosial, seseorang atau
beberapa orang diantara warga-warganya melakukan peranan yang lebih
aktif daripada rekan-rakannya sehingga orang tadi atau beberapa orang tampak
lebihmenonjol dari lain-lainnya. Itulah asal mula timbulnya kepemimpinan.
Munculnya seorang pemimpin merupakan hasil
dari suatu proses dinamis yang sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan kelompok.
Dikalangan masyarakat Indonesia , sifat –sifat yang harus dipenuhi oleh seorang
pemimpin, antara lain dapat di jumpai dalam apa yang merupakan warisan
tradisional Indonesia, misalnya dalam “Asta Brata” yang
merupakan kumpulan seloka dalam Ramayana, yang memuat ajaran Sri
Rama kepada Bharata , yaitu adiknya dari lain ibu.
Asta Brata dalam kakawin
Ramayana terdiri dari sepuluh seloka dimana seloka pertama dan kedua berisikan
hal-hal sebagai berikut
a. AstaBrata merupakan suatu keseluruhan yang tidak dapat
dipisah-pisahkan.
b. Asta Brata memberikan kepastian bahwa seorang pemimpin yang menjalankannya
akan mempunyai kekuasaan dan kewibawaan sehingga akan dapat menggerakkan
bawahannya
Menurut
Asta Brata tersebut, kepemimpinan yang akan berhasil harus memenuhi
syarat-syarat diantaranya.
a.
Indra-brata, yang member kesenangan dalam
jasmani;
b.
Yama-brata, yang menunjuk pada keahlian
dan kepastian hukum;
c.
Surya-brata, yang menggerakkan bawahan
dengan mengajak mereka untuk bekerja persuasion;
d.
Caci-brata, yang member kesenangan rohaniah;
e.
Bayu-brata, yang menunjukkan keteguhan
pendidikan dan rasa tidak segan-segan untuk turut merasakan kesukaran-kesukaran
pengikut-pengikutnya;
f.
Dhana-brata, yang menunjukkan pada suatu
sikap yang patut dihormati;
g.
Paca-brata, yang menunjukkan kelebihan di
dalam ilmu pengetahuan, kepandaian, dan keterampilan.
h.
Agni-brata, yaitu sifat memberikan
semangat kepada anak buah.
3.
Kepemimpinan
Menurut Ajaran Tradisional
Pimpinan
tradisional adalah pemimpin yang sangat ketat berpegang
pada adat kebiasaan yang di turun temurun kan
.Kepemimpinan tradisional pada umumnya bertumpu pada tata hukum yang
mengatur hidup satu masyarakat.
Karena berdasarkan tata hukum, maka
kepemimpinan tradisional sebenarnya bersifat legal artinya bersumber pada hukum
(Lex= hukum, lagalis adalah kata sifat yang mengungkapkan kaitan
sesuatu dengan hukum.
Dalam
sistem kepemimpinan tradisional yang di tekan kan adalah unsur pertalian darah
, sehingga penempatan individu dalam posisi dan jabatan yang ada
tidak tergantung pada tepat tidaknya orang tersebut berdasarkan
kemampuan nya untuk menduduki posisi itu , melainkan pada dekat tidaknya
pertalian keluarga dengan pemimpin tradisional itu.
Pimpinan
trdisionan ini di akui kepemimpinannya bukan karena kemampuan-kemampuan khusus
yang dimilikinya, melainkan hanya karena pengaruhnya dengan kelurga sudah
melembaga dan menjiwai masyarakat. Hal ini terutama karena pimpinan itu
mempunyai reputasi yang tinggi, sehingga keturunannya di percaya terus menerus
memegang tampuk pimpinan.
Di Jawa misalnya
menggambarkan seorang pemimpin melalui pepatah sebagai berikut.
“Ing ngarsa sung tulada Ing madya mangun karsa Tut
wuri handayani” Kemudian almarhum Ki Hajar Dewantara menerjemahkan
ke dalam bahasa Indonesia sebagai berikut.
“Di
muka memberi tauladan. Di tengah-tengah membangun semangat. Dari belakang
memberikan pengaruh”
Artinya seorang pemimpin yang di
muka harus memiliki idealisme kuat, kedudukan, serta harus dapat
menjelaskan cita-citanya kepada masyarakat dengan cara-cara sejelas
mungkin karena dia
harus mampu menentukan suatu tujuan bagi
masyarakat yang dipimpinnya, serta merintis ke arah tujuan tersebut dengan
menghilangkan segala hambatan, antara lain dengan menghapuskan lembaga-lembaga
kemasyarakatan yang telah using.
Seorang pemimpin di tengah mengikuti kehendak yang di bentuk masyarakat. Ia selalu dapat mengamati
jalannya masyarakat, serta dapat merasakan suka dukanya. Dan dia di harapkan
dapat merumuskan perasaan-perasaan serta keinginan-keinginan
masyarakat dan juga menimbulkan keinginan masyarakat untuk
memperbaiki keadaan yang kurang menguntungkan.
Seorang pemimpin yang di belakang diharapkan mempunyai kemampuan untuk mengikuti perkembangan
masyarakat. Dia berkewajiban untuk menjaga agar perkembangan masyarakat tidak
menyimpang dari norma-norma dan nilai-nilai yang pada suatu masa di hargai oleh
masyarakat. Sendi-sendi kepemimpinannya adalah keutuhan dan harmoni. Kepemimpinan
di belakang masih jelas tergambar dari istilah-istilah seperti “pamong raja”,
“pamong desa” dan seterusnya yang menggambarkan bahwa fungsi pemimpin adalah
untuk membimbing masyarakat.
Perlu dicatat bahwa kepemimpinan dalam
masyarakat-masyarakat tradisional pada umumnya dilaksanakan secara kolegal
(bersama-sama), contohnya seorang penyumbang marga sebagai kepala adat di
Daerah Lampung tidak akan brtindak sendiri sebelum di rundingkan dalam suatu
rapat.
4.
Sandaran-sandaran
Kepemimpinan dan Kepemimpinan yang Dianggap Efektif
Kepemimpinan seseorang (pemimpin) harus
mempunyai sandaran-sandaran kemasyarakatan atau social basis.Pertama-tama
kepemimpinan erat hubungannya dengan susunan masyarakat. Masyarakat-masyarakat
yang agraris di mana belum ada spesialisasi biasanya kepemimpinan meliputi
seluruh bidang kehidupan masyarakat.
Kekuatan
kepemimpinan juga di tentukan oleh suatu lapangan kehidupan masyarakat yang
pada suatu saat mendapat perhatian khusus dari masyarakat yang di
sebut cultural focus.
Setiap
kepemimpinan yang efektif harus memperhitungkan social basis apabila
tidak menghendaki timbulnya ketegangan-ketegangan atau
setidak-tidaknya terhindar dari pemerintahan boneka belaka.
Kepemimpinan
di dalam masyarakat hukum adat yang tradisional dan homogen, perlu disesuaikan
dengan susunan masyarakat yang masih tegas yang memperlihatkan ciri-ciri
paguyuban.hubungan pribadi antara pemimpin dengan yang dipimpin sangat
dihargai.Kepemimpinan pada masyarakat-masyarakat tradisional pada umumnya
dilaksanakan secara koligial (bersama-sama).
5.
Tugas dan metode
Secara sosiologi tugas
pokok seorang pemimpin adalah sebagai berikut
a.
Memberikan suatu karangan pokok yang jelas
yang dapat dijadikan pegangan-pegangan bagi pengikutnya. Dengan adanya karangan
pokok maka dapat disusun suatu skala prioritas mengenai keputusan-keputusan
yang dapat diambil untuk menanggulangi masalah-masalah yang dihadapi.
b.
Mengawasi, mengendalikan, serta
menyalurkan perilaku warga masyarakat yang dipimpin.
c.
Bertindak sebagai wakil kelompok kepada
dunia luar di kelompok yang dipimpin
Suatu kepemimpinan dapat dilaksanakan atau
diterapkan denagn berbagai cara. Cara tersebut biasanya dikelompokan kedalam
beberapa kategori
a.
Cara-cara otoriter
Cara otoriter memiliki ciri pokok sebagai berikut.
1.
Pemimpin menentukan segala kegiatan
kelompok secara sepihak.
2.
Pengikut sama sekali tidak diajak untuk
ikut serta merumuskan tujuan kelomopok dan cara mencapai tujuan tersebut.
3.
Pemimpin terpisah dari kelompok dan
seakan-akan tidak ikut dalam proses interaksi dalam kelompok tersebut.
b.
Cara-cara demokrasi
Cara demokrasi memiliki ciri umum sebagai berikut
1.
Secara musyawarah dan mufakat pemimpin
mengajak warga atau anggota kelompok untuk ikut serta murumuskan tujuan-tujuan
yang harus dicapai kelompok, serta cara-cara untuk mencapai tujuan-tujuan
tersebut.
2.
Pemimpin secara aktif memberi saran dan
petunjuk-petunjuk.
3.
Ada kritik positif baik dari pemimpin
maupun pengikut-pengikutnya.
4.
Pemimpin secara aktif ikut berpatisipasi
dalam kegiatan-kegiatan kelompok.
c.
Cara-cara bebas
Cara bebas memiliki ciri pokok sebagai berikut
1.
Pemimpin menjalankan perannya secara pasif.
2.
Penentuan tujuan yang akan dicapai
kelompok sepenuhnya diserahkan kepada kelompok.
3.
Pemimpin hanya menyediakan sarana yang
diperlukan kelompok.
4.
Pemimpin berada di tengah-tengah kelompok,
namun dia hanya berperan sebagai penonton.
BAB III
KESIMPULAN
A. Kesimpulan
Kekuasaan, wewenang, dan kepemimpinan
merupakan hal yang tidak dapat dipisahkan dan sangat penting dalam kehidupan
kelompok social di masyarakat.
Kekuasaan adalah
kemungkinan seorang pelaku mewujudkan keinginannya di dalam suatu hubungan
social yang ada termasuk dengan kekuatan atau tanpa mengiraukan landasan yang
menjadi pijakan kemungkinan itu.
Wewenang merupaka hak jabatan yang sah
untuk memerintahkan orang lain bertindak dan untuk memaksa pelaksanaannya.
Dengan wewenang, seseorang dapat mempengaruhi aktifitas atau tingkah laku
perorangan dan grup.
Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi
yang dilaksanakan dan diarahkan melalui proses komunikasi, ke arah pencapaian
tujuan atau tujuan-tujuan tertentu.
Sumber kekuasaan terdiri
dari harta benda, status, wewenang legal, charisma, dan pendidikan. Selain itu
unsure kekuasaan juga berpengaruh yaitu meliputi: rasa takut, rasa cinta,
kepercayaan, dan pemujaan. Lapisan kekuasaan yaitu tipe kata, tipe oligarkis,
dan tipe demokratis.
Bentuk wewenang terdiri dari:
1. Wewenang karena
charisma, tradisional, dan rasional.
2.Wewenang resmi dan
tidak resmi.
3.Wewenang pribadi dan
territorial.
4.Wewenang terbatas dan
menyeluruh.
Teori kepemimpinan :
1. Teori pengaruh
kekuasaan
2. Bersumber pada
kedudukan
3. Kekuasaan politik.
DAFTAR
PUSTAKA
·
Soekanto, 1990. Sosiologi Sebagai
Pengantar. Rajawali pers : Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar