PENGARUH
PERUBAHAN SOSIAL KEPADA KEBUDAYAAN PANJANG JIMAT DI CIREBON
DYFA
NUR APRIANI
NPM 118090046
Pada saat hari maulid nabi tiba keraton
kesepuhan Cirebon selalu melaksanakan tradisi keagamaan yang disebut upacara panjang jimat yang di
laksanakan di Keraton Cirebon (Kanoman, Kasepuhan, Kacirebonan dan Kompleks
makam Syekh Syarief Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati, pendiri kasultanan
Cirebon), tiap malam 12 Rabiul Awal atau Maulid, yakni bertepatan dengan hari
kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dan memang, tujuan utama dari panjang jimat ini
sendiri adalah untuk memperingati dan sekaligus mengenang hari kelahiran Nabi
Muhammad. sampai saat
ini upacara tersebut masih dilaksanakan namun saat ini telah banyak perubahan
yang dilakukan demi menyesuaikan dengan tradisi lama dengan perkembangan
masyarakat saat ini, semua itu dipengaruhi oleh sosial dan budaya.
Cirebon Syarif Hidayatullah kemudian
mengadopsikan acara maulud nabi itu dengan budaya Jawa sehingga menjadi prosesi
Panjang Jimat. Secara serentak, upacara pelal Panjang Jimat di Cirebon
diselenggarakan di empat tempat yang menjadi peninggalan dari Syarief
Hidayatullah. Masing-masing di Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton
Kacirebonan/Kasunanan dan kompleks makam Syekh Syarief Hidayatullah pendiri
Kasultanan Cirebon atau lebih dikenal dengan Sunan Gunung Djati.
Sebutan
Panjang Jimat sendiri adalah berasal dari dua kata yaitu Panjang dan Jimat.
Panjang yang artinya lestari dan Jimat yang berarti pusaka. Jadi, secara
etimologi, panjang jimat berarti upaya untuk melestarikan pusaka paling
berharga milik umat Islam selaku umat Nabi Muhammad yaitu dua kalimat syahadat.
Atau kalau merujuk pada utak atik gatuk dalam bahasa Jawa Cirebon, jimat yang
dimaksud adalah siji kang dirohmat yakni, lafadz Syahadat itu sendiri.
Di Keraton Kasepuhan Panjang Jimat
diturunkan oleh petugas dan ahli agama di lingkungan kerabat kesultanan Keraton
kasepuhan, yang terdiri atas:
1) Diadakan Susrana Tahap ini diadakan di
gedung/bangsal dalem. Disinilah disajikan Nasi Rosul sebanyak 7 golongan, untuk
tiap-tiap golongan ditumpangkan/ditempatkan di atas tasbih/piring besar.
Petugas-petugasnya adalah : Nyi Penghulu, Nyi Krum yang disaksikan oleh para
Ratu Dalem. Di belakang Bangsal Dalem yang disajikan air mawar, kembang goyah,
“serbad boreh” (panem) dan hidangan tumpeng 4 “pangsong”/”ancek”/”angsur”. Yang
berisi kue-kue dan tempat dong-dang yang berisis makanan, petugasnya adalah Nyi
Kotif Agung, Nyi Kaum dengan disaksikan oleh para Ratu/family kasultanan.
2) Di Gedung Bangsal Prabayaksa yaitu sebelah utara
bangsal dalem dan di bangsal Pringgadani (sebelah utara bangsal Prabayaksa),
diperuntukan bagi para undangan di tengah ruangan dilowongkan untuk deretan
upacara, terus dari Jinem ke Sri Manganti.
Pada puncak malam 12 Rabiul Awal, yang oleh
masyarakat Cirebon disebut dengan malam pelal inilah diadakan ritual seremonal
Panjang Jimat dengan mengarak berbagai macam barang yang sarat akan makna
filosofis, diantaranya barisan orang yang mengarak nasi tujuh rupa atau nasi
jimat dari Bangsal Jinem yang merupakan tempat sultan bertahta ke masjid atau
mushala keraton, yang memiliki makna filosofis sebagai hari kelahiran nabi yang
suci yang dilambangkan melalui nasi jimat ini. Nasi jimat sendiri konon berasal
dari beras yang disisil (proses mengupas beras dengan tangan dan mulut) selama
setahun oleh abdi keraton perempuan yang sepanjang hidupnya memutuskan untuk
tidak pernah menikah atau disebut juga dengan perawan sunti.
Nasi Jimat itu diarak dengan
pengawalan 200 barisan abdi dalem yang masing-masing dari mereka membawa
barang-barang yang memiliki simbol-simbol tertentu seperti lilin yang bermakna
sebagai penerang, kemudian nadaran, manggar, dan jantungan yang merupakan
simbol dari betapa agung dan besarnya orang yang dilahirkan pada saat itu,
yakni Nabi Muhammad SAW. selanjutnya, di belakang orang-orang yang membawa
jantungan dan sebagainya itu, menyusul barisan abdi dalem keraton yang membawa
air mawar dan kembang goyang yang melambangkan air ketuban dan ari-ari sang
jabang. Kemudian di barisan berikutnya, ada abdi dalem keraton yang pembawa air
serbat yang disimpan di 2 guci yang melambangkan darah saat bayi dilahirkan.
Kemudian 4 baki yang menjadi lambang 4 unsur yang ada dalam diri manusia, yakni
angin, tanah, api dan air.
Iring-iringan ini yang berawal dari
Bangsal Prabayaksa akan menuju satu tempat yakni Langgar Agung di mana nantinya
akan di sambut oleh pengawal pembawa obor yang yang bisa dimaknai sebagai sosok
Abu Thalib, sang paman nabi ketika beliau menyambut kelahiran keponakannya
lahir yang pada saatnya kemudian tumbuh menjadi manusia agung pengemban amanat
dari Tuhan untuk menyebarkan agama Islam.
Sesampainya di sana langgar agung
itu, nasi jimat tujuh rupa itu kemudian dibuka berikut sajian makanan lain
termasuk makanan yang disimpan dalam 38 buah piring pusaka. Piring pusaka ini
dikenal amat bersejarah dan paling dikeramatkan karena merupakan peninggalan
Sunan Gunung Djati, dan berusia lebih dari 6 abad. Di Langgar Agung ini
dilakukan shalawatan serta pengajian kitab Barjanzi hingga tengah malam.
Pengajian dipimpin imam Masjid Agung
Sang Cipta Rasa Keraton Kasepuhan. Setelah itu makanan tadi disantan
bersama-sama. Di sinilah kejadian unik berlaku. Rakyat yang berjubel-jubel di
luar masjid, berusaha berebutan menyalami atau sekadar menyentuh tangan PRA
Arief, Sultan Kasepuhan. Dalam keyakinan masyarakat, bila berhasil menyentuh
calon Sultan tersebut, maka ia akan mendapatkan berkah dalam kehidupannya. Tak
heran bila PRA Arief mendapat pengawalan ketat dari pengawal keraton.
upacara Panjang Jimat di Keraton
Kasepuhan sudah ada sejak jaman dahulu dan sampai sekarang masih dilakukan oleh
masyarakat Cirebon. Hal ini khususnya dikarenakan masyarakat masih memegang
teguh adat istiadat ataupun kebiasaan akan tradisi yang diwariskan turun
temurun. Secara prinsip, upacara panjang Jimat tetap dilakukan dari tahun ke
tahun, namun dalam pelaksanaannya lebih ditingkatkan yakni dilaksanakan dengan
lebih besar, meriah, diisi dengan program pembangunan dan dikaitkan dengan
pariwisata. Terdapat suatu indikasi bahwa hal ini disebabkan karena sudah
memasuki jaman globalisasi yang serba modern.
Akibat dari globalisasi tersebut
menyebabkan upacara Panjang Jimat yang merupakan salah satu adat atau kultur
Keraton kasepuhan juga mengalami perubahan. Hal ini sebenarnya tidak menjadi
masalah karena meskipun mengalami perubahan tapi tetap mempunyai struktur,
tujuan, esensi yang sama dengan pelaksanaan grebeg maulud dahulu. Nilai
kesakralan dan getaran emosi masyarakat masih tetap ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar